Halaman

Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Desember 2010

Eddie Lamak: “Itu Kerja Roh Kudus”


 
Pernyataan Ny. Margaretha Hurek Manuk pada acara serah terima jabatan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lebatukan, Selasa, 21/12/Desember lalu mendapat kecaman oleh sebagian besar masyarakat Lembata dimana saja.  “Saya tidak setuju dengan Pater Vande punya kegiatan yang mangajak masyarakat untuk tolak tambang, kamu lihat gereja besar itu, kamu lihat jalan-jalan yang dibangun sampai ke Leragere. Itu bukan uangnya Pater Vande, tetapi itu uangnya bapak (Andreas Duli Manuk-red),” kata Ibu Retha, demikian ia disapa.
Tanggapan dengan kemasan berbeda disampaikan oleh Ferdinandus Diri Amajari dari Jakarta ketika dihubungi SUPER, terkait pernyataan itu. Eddie Lamak, demikian ia disapa, justru mengapresiasi Ibu Retha atas apa yang disampaikan itu. “Tuhan sedang menujukan kepada beliau, inilah jalannya dan beliau memang harus tetap berada di jalan ini. Karena memang di poros inilah, selama ini ia berada. Sebagai orang Lembata, Lamaholot maupun Kedang, kita percaya bahwa tanah dan leluhur pun punya kuasa dashyat untuk menuntun orang menuju kepada titik dimana ia harus mempertanggungjawabkan semua yang telah dia perbuat. Hukum positif bisa dibeli. Moral sosial bisa dimanipulasi. Tetapi garis dari Atas dan kehendak Lewotana, tidak mungkin dapat dibelokan.”
Berikut nukilan lengkap obrolan Yogi Making dari SUPER dengan wartawan dan pemilik media di Jakarta, yang sejak 2006 akhir sudah concern pada isu tambang dan korupsi di Lembata dengan terlibat aktif di dalam Koalisi Jakarta Untuk Tolak Tambang di Lembata ini.

Anda memberikan komentar yang sedikit berbeda dari pada respon kebanyakan orang soal pernyataan Ny. Manuk itu. Mengapa?
Intinya sama saja. Hanya saya dan mungkin banyak yang tidak ingin suasana semakin keruh dengan provokasi picisan macam begini. Saya cenderung melihat bahwa Tuhan dan Lewotana yang mengatur lidah beliau ketika berkata-kata. Analoginya begini, jika seorang maling kemudian membuatkan sebuah kisah pengakuan yang menguak segala kejahatannya, maka patutlah kita menduga bahwa saat itu Roh Kudus atau Allah SWT sedang bekerja di dalam dirinya. Tidak perlu orang sekolahan, rakyat kita di kampung juga sudah bisa menilai betapa tak patutnya Ibu Retha berbicara begitu.
Apa yang mestinya ditunjukan oleh penguasa diakhir masa jabatan seperti sekarang ini, kepada rakyatnya?
Ya, apa ya…mestinya hal-hal yang positif. Termasuk seperti yang dikatakan oleh Ama Kun Koli Muda di dalam berita yang Anda tulis itu. Kita, meski terpaksa, haruslah berjiwa besar untuk mengucapkan terima kasih kepada Bapak Andreas Duli Manuk dan sanak kerabatnya untuk semua jasa yang telah diberikan kepada Lembata dan isinya, baik yang ada di atas tanah maupun di dalam tanah. Tapi kalau Anda tanyakan, apa yang mestinya ditunjukan, saya khawatir, mereka cukup sulit untuk mendapatkan hal yang positif dalam diri mereka, yang bisa mereka tunjukan kepada rakyat. Saya tidak menggunakan kata dia, melainkan mereka, karena Lembata selama ini bukan diurus oleh seorang dengan strong leadership, tetapi lebih mirip gerombolan. Entah itu gerombolan apa, Anda tentu lebih bisa mengartikannya.

Makna apa yang bisa dipetik oleh publik Lembata dari peristiwa dan pernyataan itu?
Dalam kondisi seperti ini, apalagi sudah di dalam suasana Pilkada, tentu semua memiliki kepentingan untuk ‘mengelola’ ini sesuai versi kepentingannya. Tetapi saya hanya ingin mengatakan bahwa, risikonya terlalu tinggi dan ongkosnya terlampau mahal jika, tanah ini, pulau ini, kabupaten ini dan ata ribu di Lembata ini beserta nasib hidupnya, diatur oleh pemimpin yang tidak ditunjang dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya. Pesan penting dibalik pernyataan Ibu Retha itu, bagi orang yang berfikir analitis, mereka akan mengatakan, “Oh, pantas saja Lembata jadi begini kalau isteri bupati saja merasa seperti permaisuri sebuah kerajaan bahkan sampai mengatakan ancaman mati kepada rakyatnya.” Come on, ancaman itu tidak beradab. Uang yang dipakai untuk pembangunan itu juga bukan uang pribadi. Itu uang rakyat. Mau bupatinya siapapun, bahkan kalau ‘Kucing’ bisa jadi bupati pun, semua dana dari pusat itu pasti turun ke Lembata. Maaf, saya menggunakan analogi ‘Kucing’ hanya untuk mengikuti apa yang Ibu Retha katakan dalam berita itu, karena saya tak sudi juga jika rakyat kita dari kampung itu disamakan dengan ‘Anjing Rabies.”  Nah, tapi kalau misalnya ‘Kucing’ dibolehkan Undang-Undang untuk menjadi bupati, pastinya kabupaten ini menjadi selalu salah urus. Proyek-proyek tententu bisa berhenti di tengah jalan, aktifitas maksiat yang harusnya dijauhi, malah dibiarkan seolah hal yang wajar, dan kalau Kucing-nya adalah Kucing Garong, semuanya bisa dia caplok, bahkan termasuk hukum yang harusnya lebih kuat dari dia.

Bagaimana komentar Anda terkait pemimpin ideal bagi Lembata di 2011 nanti?
Selidiki betul orang yang ingin Anda pilih, bagaimana perilakunya dan rekam jejaknya, adakah ia memiliki bakat terpendam untuk menjadi ‘Kucing Garong’ kelak jika memimpin? Hahaha. Ya, Saya selalu berbasis pada cara pandang bahwa, yang harus kita cari adalah calon pemimpin Lembata yang adalah orang Lembata. Cara pandang kewilayahan dalam tataran akar rumput, pelan-pelan harus kita cabut, dan tentu saja itu sudah kami mulai sejak 5 tahun lalu, ketika saya dan Pak Pieter Keraf yang sama-sama dari satu wilayah, maju sebagai peserta Pilkada. Lantas dengan apa kita menilai seseorang layak atau tidak melakukan total restoration di Lembata, jika aspek wilayah tidak lagi penting? Cukup banyaklah aspek dan parameter yang mudah untuk dijadikan tolak ukur.

Anda masih ingin maju di 2011 nanti?
Ya, mungkin terdengar angkuh tetapi saya sedang pertimbangkan beberapa calon bupati yang mengajak saya untuk maju. Bagi saya, kesamaan konsep dan visi adalah alasan utama jika saya harus menerima ajakan itu. Jika tidak ada kesamaan akan hal itu, pada saatnya saya akan mengumumkan kepada publik bahwa saya tidak ikut dan mari kita mendukung siapa yang lebih tepat.(Yogi)

Rabu, 22 Desember 2010

Margaretha Manuk: Bapak Sakit Hati Karena Didemo


 Gbr. Kunrardus Koli Muda (foto: Yogi)

“saya tidak setuju dengan Pater Vande punya kegiatan yang mangajak masyarakat untuk tolak tambang, kamu lihat gereja besar itu, kamu lihat jalan-jalan yang dibangun sampai ke Leragere. Itu bukan uangnya Pater Vande, tetapi itu uangnya bapak(Andreas Duli Manuk-red)”
Hal ini disampaikan oleh ketua Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Lembata Ny. Margaretha Hurek Manuk, pada acara serah terima jabatan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lebatukan, dari Ibu Lusia Wahon kepada Ibu Eda Letor, di Balai serbaguna Kecamatan Lebatukan, yang dihadiri oleh para kepala desa se-Kecamatan Lebatukan, para ketua BPD, se-Kecamatan Lebatukan, para ketua TT-PKK desa se-Kecamatan Lebatukan, dan para tokoh masyarakat se-Kecamatan Lebatukan, Selasa 21/12/2010 pagi.
Hal ini disampaikan kembali oleh Kepala Desa (Kades) Seranggorang, Kondradus Koli Muda, Rabu 22/12/2010, di Lewoleba, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Koli Muda mengaku kecewa dengan pernyataan Margeretha, karena sebagai seorang pemimpin, tidak seharusnya kata-kata seperti itu disampaikan.
“Sebagai Kepala Desa Seranggorang yang mengerti mengenai tata krama dan adat lamaholot yang selama ini kita junjung tinggi, saya sangat menyesal dengan adanya pernyataan ibu ketua TP-PKK tersebut. Karena momen ini seharusnya dijadikan sebagai momen untuk meminta maaf dan rekonsiliasi, kalau dalam 10 tahun memimpin ada salah kata, atau silang pendapat, sekaligus sebagai momen untuk silaturahmi, menyatukan masyarakat untuk kembali menatap masa depan, dan bukan untuk memecah belah masyarakat yang sebentar lagi akan merayakan hari raya Natal,” urai Koli Muda.
Selain itu Kun mengatakan, pernyataan itu jelas melahirkan kekecewaan dari perserta yang hadir pada saat itu, termasuk Ny. Andreas Nula Liliweri, dan Ny. Petrus Toda Atawolo. Bahkan Kades Ledotodokowa, Paulus Ola Atu, langsung melakukan interupsi dan mengatakan, “Pater Vande tidak berada dalam ruangan ini, jadi jangan sebut-sebut Pater Vande punya nama. Namun Margeretha langsung membalas dengan suara kasar bahwa, kalau tidak puas diluar.”
Selain itu, margaretha mengatakan suaminya Andeas Duli Manuk sakit hati karena didemo oleh masyarakat lingkar tambang “Bapak juga sakit hati, bagaimana kamu datang demo terus-terus,” tutur Kun mengulangi pernyataan Margaretha. yang nampak dalam sambutan tersebut, terbukti sarat emosional, dan tidak menunjukkan pribadi seorang istri pemimpin. Kata mantan anggota DPRD Lembata periode pertama ini.
Hal lain yang diungkap Margaretha dalam kesempatan itu adalah, masyarakat Ile Ape sangat marah dengan aksi demonstrasi dari masyarakat leragere dan kedang, namun untungnya orang Ile Ape masih punya hati sehingga tidak sampai melakukan tindakan anarkis.
“Kamu yang datang demo itu sama dengan anjing-anjing rabies. Untung orang Ile Ape masih punya hati, kalau tidak mereka jaga di batas kota, dan sebagian dari kamu yang datang demo tolak tambang sudah mati di Batas Kota,” lanjut Margaretha.

Orang Ile Ape Juga Tolak Tambang

“Sebagai anak Ile Ape saya mau mengatakan bahwa pernyataan dari Ibu Margaretha Manuk itu sama sekali tidak benar, dan tidak mewakili kami orang Ile ape. Kami orang Ile Ape tidak pernah bermusuhan dengan orang lebatukan atau masyarakat lingkar tambang”
Pernyataan ini disampaikan Simon Langoday. Saat ditemui dibilangan wangatoa kelurahan selandoro Rabu, 22/12/2010 petang.
Bagi simon persoalan tambang di lembata telah melahirkan konflik yang tak pernah selesai, oleh karenanya ia berharap, siapapun dia tidak boleh membuat statmen-statmen yang bersifat provokatif yang dapat melahirkan konflik horisontal antar masyarakat. Bahkan menurut Simon, orang Ile Ape pun tolak tambang. “Saya pikir istri bupati, hanya mau melahirkan pernyataan untuk menciptakan konflik antara masyarakat Ile Ape dengan masyarakat Lebatukan. Karena kami selama ini tidak pernah ada permusuhan dengan orang Lebatukan, dan jangan pikir bahwa bupati orang Ile Ape jadi kami orang ile ape juga dukung tambang, saya tegaskan kembali bahwa kami orang Ile Ape juga tolak tambang” kata Simon tegas.
Sementara itu, tokoh muda asal ile ape lainnya Elias K. Making saat di temui di kediamannya rabu 22/12/2010 menilai, sebagai istri bupati mestinya Ibu Margaretha harusnya bertindak sebagai ibu bagi masyarakat lembata dan selalu memberikan kesejukan dan merangkul masyarakat, bukan membuat masyarakat semakin jauh dari pemimpinnya. “sebagai istri bupati mestinya ibu Margaretha tampil sebagai sosok yang menyejukan, dan merangkul masyarakat, bukan membuat masyarakat semakin jauh dari pemimpinnya sendiri”. Kata Elias
Bagi Elias, Lembata ini dibangun dengan uang negara yang diperoleh dari pajak yang dibayarkan rakyat, jadi salah jika mengatakan bahwa Lembata ini dibangun dengan uanh pribadi. “salah sekali bila mengatakan bahwa lembata ini dibangun dengan uang pribadi, saya hanya mengingatkan saja bahwa, pembangunan dimana saja itu dibangun dengan menggunakan uang negera.” Tegas anak Ile Ape yang tinggal di wangatoa ini. Sayang sampai dengan berita ini diturunkan Margaretha Manuk tidak sempat di temui. (Yogi)