Halaman

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2012

Ketua MK: Flores jadi miniatur Indonesia dalam kerukunan beragama


Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Mohammad Mahfud MD mengatakan, Flores pada umumnya dan Kabupaten Manggarai Barat pada khususnya merupakan miniatur Indonesia dalam kerukunan umat beragama. Pluralisme yang sangat bagus dialami di Pulau Flores.

Umat beragama di Kabupaten Manggarai Barat, entah itu agama Katolik, Islam dan agama-agama lainnya, saling menghargai dalam kehidupan berbangsa, berneagara dan beragama dan selama ini tidak ada konflik antarpemeluk agama di Kabupaten Manggarai Barat dan di wilayah Pulau Flores.

Demikian pernyataan Mahfud, Rabu (22/8/2012), di rumah jabatan bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla, seusai jamuan makan malam bersama dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Alumni Seminari Beato Yohanes Paulus II, seperti dilansir kompas.com.

Mahfud menjelaskan, Indonesia harus belajar dari masyarakat Flores dan Kabupaten Manggarai Barat soal pluralisme yang sangat dibina dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan sosial dan keagamaan di Kabupaten Manggarai Barat, saat kunjungan ini, nampak jelas.

Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berterimakasih atas kunjungan Mahfud sambil berwisata di Pulau Rinca, untuk melihat binatang langka yang hanya ada di Kabupaten Manggarai Barat.

Nampak hadir para alumni Seminari Beato Yohanes Paulus II dari Jakarta, Bali dan tempat lainnya di Indonesia dan luar negeri makan bersama, atas undangan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.

Minggu, 30 September 2012

Sonny Keraf: Ekowisata Bisa Jadi Andalan Flores


LABUAN BAJO, KOMPAS.com- Sesungguhnya Flores -termasuk Kabupaten Lembata dan Kabupaten Alor- dapat dibangun lebih maju lagi dengan mengandalkan pertanian, perikanan, dan pariwisata. Namun, proses produksinya harus didukung teknologi tepat guna.

Bahkan, secara khusus ekowisata dapat menjadi andalan sebagai lokomotif pengembangan ekonomi kawasan itu. Pendukung utamanya adalah menempatkan pertanian dan perikanan dalam kemasan ekonomi kreatif berbasis masyarakat.

Demikian pandangan Alexander Sonny Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup (1999-2001), yang kini dosen Pascasarjana Imu Lingkunga Universitas Indonesia, dalam seminar bertema Ecoflores untuk Masa Depan Berkelanjutan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (27/9/2012).

Seminar itu sendiri merupakan rangkaian kegiatan Ecoflores Conference sejak Rabu kemarin. Pemakalah lainnya adalah Meribeth (antropolog), Supriatna (peneliti UI), dan Bandur (peneliti pendidikan).
Menurut Sonny Keraf, jika ekowisata diandalkan menjadi penggerak utama ekonomi kawasan tersebut, maka pilihan itu sekaligus menuntut kesiapan masyarakatnya. Mereka harus terlibat secara aktif menyediakan berbagai jasa ekowisata.Di antaranya restoran, akomodasi, transportasi, diving dan semcamnya seperti sovenir, pemandu wisata dan lainnya.

Untuk itu semua, lanjut Sonny Keraf, dibutuhkan kemauan politik serta dukungan serius dan konsisten dari Pemda di kawasan itu. Dukungan yang sangat diharapkan adalah menyediakan infrastruktur dan sarana-prasarana wisata serta promosi yang memadai sebagai pendodorong utama pengembangan ekowisata.
"Saya sangat yakin, Flores bisa maju hanya dengan ekowisata, dan karena itu tambang tidak perlu atau nanti saja," katanya.
Sumber : Kompas.com
Penulis : Frans Sarong | Kamis, 27 September 2012 |
Editor : Marcus Suprihadi

Sabtu, 29 September 2012

Cerita Anak Jenderal D.I. Panjaitan Soal G30S/PKI


TEMPO.CO, Jakarta–Masih ingat dengan film Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI? Selama masa kepresidenan Soeharto, film berkisah penculikan serta pembunuhan tujuh jenderal revolusi itu selalu diputar pada 30 September oleh Televisi Republik Indonesia atau TVRI. Satu korban yang menjadi sasaran pembantaian adalah Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan atau D.I. Panjaitan. Dan putrinya, Catherine Panjaitan, menjadi saksi mata penculikan itu.

Pada majalah Tempo edisi 6 Oktober 1984, Catherine menceritakan kejadian malam berdarah itu. Ingatan itu tertuang dalam tulisan berjudul, Kisah-kisah Oktober 1965. Bagi Anda yang sempat menonton filmnya pasti melihat adegan putri D.I Panjaitan membasuhkan darah sang ayah ke mukanya. Tapi benarkah Chaterine melakukan hal itu?

“Saya melihat kepala Papi ditembak dua kali,” Catherine mengisahkan. “Dengan air mata meleleh, saya berteriak, "Papi..., Papi...." Saya ambil darah Papi, saya usapkan ke wajah turun sampai ke dada.”

Kata Catherine, penculikan terjadi sekitar pukul 04.30, pada 1 Oktober 1965. Kala itu, ia tengah tidur di kamar lantai dua. Kemudian terbangun karena teriakan dan tembakan. Catherine mengintip ke jendela. Ternyata telah banyak tentara berseragam lengkap di perkarangan rumah. “Beberapa di antaranya melompati pagar, sambil membawa senapan,” kata Catherine.

Panik, ia lari ke kamar ayahnya. Yang dicari sudah terbangun dari tidur. Mereka pun berkumpul di ruang tengah lantai atas. Kata Catherine, almarhum papinya terus mondar-mandir, dari balkon ke kamar. Dia sempat mengotak-atik senjatanya, semacam senapan pendek.

Catherine sendiri sempat bertanya pada ayahnya soal apa yang terjadi. Tapi sang jenderal bergeming. Sedangkan di lantai bawah, bunyi tembakan terus terdengar. Televisi, koleksi kristal Ibu Panjaitan, dan barang lainnya hancur. Bahkan meja ikut terjungkal. “Tiarap…tiarap,” kata Catherine menirukan ayahnya.

Sebelum menyerahkan diri ke tentara, mendiang Panjaitan sempat meminta Catherine menelepon Samosir, asisten Jenderal S. Parman. Usai itu, Catherine menghubungi Bambang, pacar sahabatnya. Tapi belum selesai pembicaraan, kabel telepon diputus.

Berseragam lengkap, kemudian D.I. Panjaitan turun ke ruang tamu. Seorang berseragam hijau dan topi baja berseru, "Siap. Beri hormat," Tapi Panjaitan hanya mengambil topi, mengapitnya di ketiak kiri. Tak diacuhkan begitu, si tentara memukul Panjaitan dengan gagang senapan, hingga ia tersungkur. Setelah itu, kejadian bergulir cepat. Dor! Dor! “Darah menyembur dari kepala Papi,” kata Catherine.

Jumat, 21 September 2012

Tidak Sadar Hamil, Tentara Inggris Melahirkan di Afghanistan


London (AFP/ANTARA) - Seorang tentara Inggris yang bertugas di garis depan di Afghanistan, melahirkan di pangkalan NATO di tempat dia ditugaskan, satu hari setelah mendapatkan serangan dari Taliban, kata kementerian pertahanan pada Rabu.

Wanita, yang melahirkan bayi laki-laki pada Selasa di Camp Bastion, di Provinsi Helmand, tidak tahu bahwa dia sedang hamil, ujar laporan media Inggris.

Dua Marinir AS tewas dan kerusakan material belum pernah terjadi sebelumnya disebabkan ketika penyerang bersenjata dengan senapan, roket, dan rompi bunuh diri menyerbu markas tersebut, di tempat Pangeran Harry juga bertugas pada Jumat lalu.

Ibu dan bayi, keduanya dalam kondisi stabil, sedang menunggu kedatangan tim dokter spesialis dari rumah sakit di Oxford, sebelah tenggara Inggris, sebelum diterbangkan pulang.

Seorang juru bicara Departemen Pertahanan (MoD) mengatakan: "Kami dapat mengonfirmasi bahwa pada 18 September yang pelayan wanita asal Inggris yang bertugas di Afghanistan melahirkan bayi laki-laki di Rumah Sakit Kamp Bastion.

"Ibu dan bayi, keduanya dalam kondisi stabil di rumah sakit dan menerima perawatan terbaik.

"Sebuah tim dokter spesialis anak sedang dipersiapkan dan akan memeriksa mereka dalam beberapa hari ke depan dalam rangka memberikan perawatan yang tepat bagi ibu dan bayi pada penerbangan pulang."

Dia mengatakan MoD tidak menyadari kehamilan wanita itu, menambahkan "Ini bukan kebijakan militer untuk mengizinkan wanita untuk ikut dalam layanan perang jika dalam keadaan hamil."

Menurut surat kabar Daily Mail Inggris mengatakan bahwa wanita itu, dilaporkan dari Fiji, baru mengetahui dirinya hamil ketika ia pergi ke petugas medis mengeluh sakit perut parah dan diberitahu dia akan melahirkan. Bayi itu lahir lima pekan prematur, kata surat kabar itu. (yg/ml)

Senin, 20 Desember 2010

Lembata Butuh Pemimpin Yang Merakyat


“ Lembata butuh pemimpin yang merakyat“. Demikian hal ini di sampaikan oleh bapak Petrus Gute Betekeneng ketika  ditemui Super di kediamannya, kamis (16/12).
Melihat kondisi lembata saat ini, Betekeneng menjadi sangat prihatin. Sebagai salah satu tokoh perintis  otonomi  Kabupaten lembata, Dia turut memberikan rasa keprihatinan , dengan melihat  kondisi  yang  dirasakan masyarakat  Lembata saat ini yang  sungguh  mencekam.  Pasalnya,  Memasuki  umur  yang ke 11 tahun otonomi lembata masyarakat  lembata  belum merasakan kesejehteraan  dan keadilan yang merata  dari setiap dimensi kehidupan. Kegagalan  dalam pembangunan  yang  berorientasi  kepada kepentingan  masyarakat, merupakan kegagalan pemimpin  itu sendiri.
“ Kabupaten lembata  yang  dulu bersih dari segala macam bentuk penindasan kini di lacuri dengan  prilaku pemimpin lembata yang  berwatak arogan dan otoriter,” tegas Betekeneng. Menurut Betekeneng  bahwa  tokoh atau pemimpin Lembata  yang layak memimpin kabupaten lembata lima tahun kedepan  adalah tokoh atau pemimpin yang  jangan hanya mengejar kekayaan, nama, kekuasaan , tetapi tokoh yang   mau melayani dan mengabdi untuk rakyat,  dengan hati yang jujur untuk menegakan keadilan dan kebenaran menuju kesejahteraan rakyat Lembata.  Karena selama ini, tokoh – tokoh itu mengkampanyekan  hal yang muluk – muluk teryata  pengalaman itu dalam praktek apa yang disampaikan itu tidak terlaksana. Mereka selalu menjanjikan sesuatu,  tetapi secara fakta tidak di realisasikan  dengan tidak memperhitungkan keadaan keuangan daerah lalu merencanakan hal  - hal yang mencapai  tujuan mereka menjadi pejabat.
“ Masyarakat  selama ini merasa kecewa  dengan harapan – harapan yang di sampaikan oleh calon – calon tersebut , sehingga menurut saya,mereka tidak harus mengejar segala hal yang saya sampaikan tadi, tetapi mengejar  tujuan atau kepentingan public atau masyarakat.  Saat ini kita masih tetap dengan kondisi seperti tahun 1954 kemarin ,” tutur Betekeneng .
Betekeneng mengharapkan, ketika telah menjadi Bupati dan Wakil Bupati, jangan pernah mengingkari janji- janjinya dan mengurus  kepentingan diri, kekayaan, korupsi dan sebagainya dan hal – hal yang di harapkan masyarakat tidak tercapai. “ Harapan saya terhadap salah satu paket yang nantinya lolos dalam pemilukada lembata  kali ini, bahwa bekerja dengan  hati, bertanggungjawab sehingga rakyat bisa merasakan apa yang mereka sampaikan di saat kampanye. Sehingga kita bisa keluar dari pada kemiskinan, kemelaratan ,ketertinggalan , keterisolasian dan segala macam bentuk penindasan lainnya “, tegas Betekeneng.
 

 

Pencetus Statment 7 Maret, Petrus Gute Betekeneng (Foto Super)