Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Rumah Sakit Umum Lewoleba, Hanya Untuk Tempat Istirahat



LEWOLEBA, FBC-Tak ada yang menjamin jika seorang pasien bisa segera pulih ketika berada di RSUD Lewoleba. Rumah sakit kebanggaan warga lembata itu, kini tak ubahnya seperti hotel yang hanya bisa dijadikan tempat menginap. Dan mirisnya, bagi pasien dengan kondisi ekonomi pas-pasan bahkan harus menanggung utang jika ingin sembuh.
RSUD Lewoleba
Kantor RSUD Lewoleba

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, RSUD Lewoleba kini dalam persoalan serius. Tidak saja kehabisan obat dan bahan habis pakai tetapi keadaan diperparah dengan rusaknya alat kesehatan di laboraturium, dan anehnya walau rumah sakit dalam keadaan kritis, warga terus berdatangan untuk mendapat pelayanan medis.

“Setahu saya, obat sudah habis sejak bulan Pebruari 2014, karena ketika kami mulai berkantor disini, banyak pasien yang datang klaim supaya kami bayar kembali biaya obat yang mereka beli di luar, tetapi mekanisme kami tidak begitu. Kami bayar ke rumah sakit,” kata Kepala Operasional Badan Pelayanan Jaminan sosial Kabupaten Lembata, Novita Nalle.

Dia mengatakan, karena sering di datangi pasien, Novita akhirnya memilih untuk berkoordinasi dengan Sekda Lembata, Petrus Toda Atawolo, karena menurutnya, BPJS tidak berhubungan dengan pasien tetapi dengan pihak RSUD. “ada beban moril kita dengan dengan anggota JKN, sehingga kami komunikasikan dengan Sekda supaya dicarikan jalan keluar yang tidak merugikan masyarakat,” jelasnya.

Jalan keluar yang ditempuh setelah berdiskusi denga Sekda Atawolo adalah, setiap pembelian obat di luar, pasien harus memegang bukti transaksi dan diserahkan kepada pihak manajemen RSUD. Dengan tujuan biaya pembelian obat dikembalikan kepada pasien.   

Kondisi rumah sakit milik pemerintah dan menjadi kebanggan orang lembata ini dapat dipastikan sedang dalam kondisi kritis, pasien yang masuk rumah sakit terus mengeluh karena merasa kesulitan untuk mendapatkan obat. Dan anehnya, ketika keluhan itu disampaikan, pihak manajemen RSUD hanya berkilah dan meminta pasien atau keluarga pasien untuk membeli obat sendiri  dan memegang bukti pembelian agar bisa mengklaim pengembalian uang ke pihak pengelola RSUD.

Padahal rumah sakit merupakan fasilitas kesehatan dengan fungsi utama adalah, upaya penyelenggaraan kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien. Merujuk pada fungsinya, maka rumah sakit mestinya menyiapkan segala fasilitas untuk mendukung upaya penyembuhan dan pemulihan. Alat kesehatan dan obat menjadi hal wajib untuk disediakan. Jika tidak, maka rumah sakit tak lebih dari sebuah sarana penginapan.

“Kami terdaftar resmi sebagai anggota BPJS, mestinya segala hal yang berkaitan dengan biaya rumah sakit, tidak dibebankan kepada kami termasuk obat. Tapi, sekarang kami dibebankan dengan biaya-biaya yang tidak kami duga sebelumnya. Jujur saja, saya terpaksa minjam uang untuk beli obat, dan saya tidak tahu, apakah biaya yang saya keluarkan ini bisa di kembalikan? Kalau tidak di kembalikan, lalu untuk apa kita masuk anggota BPJS?,” kata Darius Raya, warga Tanjung Batu, kecamatan Ile Ape.

Darius juga keluarga pasien lainnya mengakui, bila mereka diminta memegang semua bukti pembelian obat agar diserahkan kepada pihak manajemen RSUD, dengan harapan biaya yang dikeluarkan dapat dikembalikan.  

Sebagaimana yang disampaikan Linus Lawang. Kakek dari Balita 1,5 tahun yang dirawat diruang ICU karena luka bakar. Lawang Warga Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur di RSUD Rabu, (3/9)  membenarkan jika dirinya diminta untuk mengembalikan semua bukti pembelian obat agar nantinya biaya pembelian obat itu dikembalikan pihak rumah sakit.

Dia menuturkan, cucunya mengalami luka bakar serius dan terpaksa di rujuk ke kupang. Kepada wartawan dia mengatakan, dokter menjelaskan bahwa sang cucu harus dirujuk ke Kupang karena luka bakar yang dideritanya berpengaruh pada gangguan paru-paru.  

“Dokter sendiri bilang, disini kehabisan obat, juga beberapa alat kesehatan yang mendukung upaya proses penyembuhan tidak dimiliki RSUD, jadi sebaiknya dirujuk ke Kupang. Kondisi seperti ini jelas membuat saya marah dan kecewa. Bagaimana mungkin rumah sakit tidak menjamin kesembuhan? Obat saja tidak punya,” ketus Linus.  

Penuturan warga dan kepala Opresional BPJS Lembata mengundang rasa penasaran. FBC akhirnya menemui salah satu pegawai bagian Farmasi, setidaknya hanya untuk membuktikan kebenaran informasi terkait persediaan obat di RSUD. “memang obat lagi kosong. Digudang Farmasi sudah tidak ada apa-apa lagi, dan itu sudah lama. Tapi saya minta tolong, kaka jangan tulis saya punya nama,” kata pegawai farmasi RSUD Lewoleba itu.  

Kondisi ini pun ikut di komentari anggota DPRD Lembata Lazarus Teka Udak. Dalam sidang perdananya di ruang rapat DPRD Kabupaten Lembata, Selasa (9/9) DPRD asal partai Nasdem ini mengatakan, kondisi rumah sakit umum Lewoleba parah dan membutuhkan penangangan segera.
“Saya sudah datang kesana, sekarang tidak saja obat yang habis tetapi juga alat dilaboraturium juga rusak dan terpaksa saya ke rumah sakit damian,” kata Udak.

Manajemen Bobrok

Keadaan rumah sakit kebanggaan warga lembata itu, kini dalam kondisi kritis. Keluhan-demi keluhan terus saja dilayangkan, tidak saja dari warga yang membutuhkan jasa pelayanan, tetapi keluhan juga datang dari karyawan RSUD. Berbagai kritik publik, mestinya ditanggapi positif sembari melakukan upaya pembenahan kedalam, namun terkesan diabaikan. Perubahan kearah yang lebih baik tak juga datang.
Viktor Mado Wathun, Wabub Lembata

Jika sebelumnya keluhan pasien hanya sebatas pelayanan, kini keluhan kian bertambah. Rumah sakit yang mestinya menjamin kesembuhan itu malah membuat pasien kian sulit karena harus menyiapkan obat sendiri.

Keadaan RSUD Lewoleba yang ketiadaan obat ini ternyata diakui juga oleh Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun. Saat dijumpai diruang kerjanya, Jumad (5/9) Viktor tak menampik jika obat dan bahan habis pakai di RSUD Lewoleba sudah habis sejak bulan Februari 2014. Dirinya bahkan sering didatangi warga untuk menyampaikan keluhan.

Jelas, sebagai pemerintah dirinya pun sudah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait termasuk dengan Dinas Kesehatan, dan Manajemen RSUD, sayangnya dirinya hanya diberi jawaban menanti tender, dan terakhir masih menunggu distribusi.

Kondisi ini sebenarnya tidak boleh terjadi. Sebagai pengelola, pihak manajemen mestinya sudah mempersiapkan jauh sebelumnya. “Tapi memang tidak bisa. Manajemen RSUD itu memang bobrok, bahkan lebih buruk dari manajemen kios. Kalau begini apa yang mau kita harapkan?, coba lihat sekarang, rumah sakit kita memang hanya berfungsi sebagai tempat menginap,” kesal Viktor. Saat berbincang dengan wartawan diruang kerjanya, Viktor berulang kali mempertanyakan alasan kehabisan obat.

Menurutnya, sepanjang manajemen RSUD masih di tangan dr. Aditya Yoga maka dirinya tak yakin bila manajemen RSUD mampu berbenah menuju arah yang baik. “kesulitannya ada di SDM. Dan ini menjadi perhatian serius pemerintah,” katanya.

Pengelolaan Obat

Guna menjawab rasa penasaran terkait alasan kehabisan obat, FBC terus melakukan penulusaran. Berbagai sumber didekati, baik sumber yang berhubungan langsung dengan bidang kesehatan, juga sumber-sumber lain yang prihatin dengan kondisi RSUD Lewoleba. Dari semua sumber yang ditemui, rata-rata bersepakat kalau letak permasalahan sesungguhnya pada buruknya sistem manajemen.

Kor Sakeng, aktivis Aldiras yang lama berkecipung dalam dunia penangangan pengungsi di Timor-Timur mengatakan, ketidak efisiennya manajemen pengelolaan obat di rumah sakit sangat berdampak negatif, baik secara medis maupun ekonomi pasien dan keluarganya. Obat kata Kor Sakeng, adalah sebuah komponen penting dalam manajemen rumah sakit. Pengelolaan obat yang efisien sangat diperlukan agar selalu tersedia saat dibutuhkan, te
Kor Sakeng
rjamin secara mutu, tepat jenis dan waktu juga digunakan secara rasional. “jangan sampai saat dibutuhkan stokya habis,” katanya

Sementara itu sumber lain mengatakan, manajemen pengelolaan obat melibatkan berbagai pihak dan tahapan. Dimulai tahapan seleksi, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi dan penggunaan obat. Tim di RSUD yang melibatkan berbagai provesi harus bersepakat dan menyeleksi obat-obat yang beredar di rumah sakit. Dan tentu, obat-obat yang di rumah sakit milik pemerintah harus menggunakan daftar obat sebagaimana yang termuat dalam keputusan Menteri Kesehatan-RI guna mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional.

Kendati demikian, ungkap salah satu sumber yang tak lain adalah PNS di lingkup Setda Kabupaten Lembata itu mengatakan, perencanaan pengadaan obat sangat rentan dengan bujukan dan rayuan perusahan-perusahan farmasi yang senantiasa menjanjikan bonus yang menggiurkan. Karena itu, orang yang meminta namanya tidak dipublikasi itu mengatakan, dibutuhkan orang-orang dengan komitmen yang kuat untuk direktrut dalam tim manajemen obat ini.

“Makanya kalau yang masuk dalam tim ini adalah orang-orang yang masih memikirkan kepentingan diri atau kelompok, saya jamin pengelolaan obat akan menjadi asal-asalan, dan akibatnya muncul perencanaan yang tidak jelas, dan pada bagian akhir rumah sakit harus kehabisan obat,” yakin sumber ini.

Mencermati keadaan rumah sakit milik masyarakat lembata ini, sejenak kita tertegun. Karena dari berbagai informasi yang berhasil di himpun menyebutkan banyak sudah warga lembata dengan status ekonomi pas-pasan terpaksa membawa pulang keluarganya yang sedang kritis dan akhirnya harus meregang nyawa.  Bahkan bocah 1,5 tahun yang menderita luka bakar yang dirujuk ke kupang pun kini sudah kembali ke lembata dalam keadaan tak bernyawa. Jenazah cucu dari Linus Lawang ini tiba di lewoleba, Senin (8/9).

Kapan Pengadaan Obat

Dokter Yoga kepada floresbangkit di ruang kerjanya menjelaskan, sistim pengadaan obat mengikuti proses tender umum di pemerintahan. “Iya kita mekanisme tender di pemerintah,” kata Yoga. Penjelasan kepala rumah sakit umum lewoleba ini mendapat reaksi keras dari aktivis Aldiras Kor Sakeng.

Baginya hal yang dijelaskan kepala RSUD itu merupakan sebuah kepura-puraan, sekedar menutup kesalahan. Karena khusus pengadaan obat tidak saja berpedoman pada peraturan Menkes, tentang harga obat untuk pengadaan pemerintah, tetapi juga ada rujukan lain yakni, peraturan presiden nomor 70 tahun 2012, dimana dalam pasal 38 ayat 4 a3, dengan jelas mengamanatkan supaya obat generik yang sifatnya mendesak dilakukan dengan Penunjukan Langsung (PL) dengan negosiasi teknis dan harga kepada pabrik atau distributor resmi.

“Soal harga tetap berpatok pada harga obat e-katalog sebagaimana dalam keputusan Menkes. Aneh, kalau Doter Yoga tidak tahu. Alasan seperti itu hanya menunjukan ketidakberdayaan. Pertanyaan kenapa tidak menggunakan cara PL, kepada dokter Yoga saya ingatkan, jangan main-main dengan nyawa manusia. Kalau tidak mampu turun dari jabatan,” tegas Sakeng.

Menilai ketidakberdayaan dr. Aditya Yoga, Sakeng yang kini terpilih menjadi Koordinator Aliansi Keadilan dan Kebenaran Anti Kekerasan (Aldiras) menggantikan posisi Petrus Bala Wukak, mendesak pemerintah untuk segera menggati direktur RSUD Lewoleba. “saya tidak mengerti lagi kalau direktur RSUD itu tetap di pertahankan,” ujarnya.

Penilaian Sakeng terhadap kemampuan sang direktur RSUD bisa saja benar, namun bisa juga salah betapa tidak penelurusan FBC menemukan indikasi lain. Ada dugaan bila rencana pengadaan obat sengaja di perlambat, agar obat non katalog atau obat yang tidak termuat dalam keputusan Menkes, laris terjual.

Tidak dipungkiri, bila sekian banyak apotik di kota lewoleba ini, menjalin kerjasama dengan pihak rumah sakit, bahkan ada juga apotik milik salah satu orang penting dilewoleba. Dengan demikian diduga, pengadaan obat di untuk RSUD Lewoleba sengaja diperlambat agar obat non katalog di apotik tertentu laku di jual. Lebih jauh dalam penelusuran FBC menemukan, pasien atau keluarga pasien wajib membeli obat pada apotik tertentu. Jika tidak, obat tidak digunakan oleh rumah sakit. 
Terkait dugaan kerjasama dengan apotik tertentu Yoga sang direktur rumah sakit umum lewoleba  Dengan nada terbata-bata dan menampakan wajah cemas mengatakan, “Yah, terserah bapak sajalah, bapak tulis saja,” singkat Yoga.  

Manajer RSUD Menghindar

Sementara itu direktur RSUD Lewoleba, dr. Aditya Yoga tak menampik jika stok obat di RSUD Lewoleba sekarang sedang kosong, namun dia membantah jika kekosongan stok obat itu sudah terjadi sejak bulan Februari 2014. Anehnya ketika ditanya terkait pengadaan, Yoga balik meminta wartawan untuk bertanya langsung ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), menurutnya, sebagai pengguna anggaran dirinya tidak boleh mengintervensi PPK.  

Klarifikasi kepala RSUD Lewoleba ini disampaikan kala dijumpai wartawan di ruang kerjanya, kantor RSUD Lewoleba, Jumad (5/9).

“Kalau Februari itu tidak benar, kondisi kita sekarang stok obatnya sedang menipis. Jadi bukan habis pak, dan sekarang kita lagi tunggu distribusi, kalian tanya langsung saja ke PPK,” kata Yoga tanpa beban.

Dia menjelaskan, tender pengadaan obat sudah dilakukan sejak bulan Juni 2014, dan biasanya obat baru datang setelah tiga bulan. Di tambahkan lagi, perusahan yang pemenang tender obat sebanyak 36 dari 37 perusahan yang mendaftar, dengan pagu dana pengadaan obat sebesar Rp. 811.961. 193 dan untuk pengadaan bahan habis pakai sebesar Rp. 919.282.116.

Kepada wartawan, Yoga mengaku memahami kegelisahan pasien, karena itu berbagai upaya telah dilakukan termasuk meminjam obat ke Puskemas yang di kelola dinas kesehatan. Sayangnya kondisi yang sama pun dialamai Puskemas. “Yah, sekaran kita tunggu droping saja pak,” kata Yoga dengan suara yang hampir tak terdengar.   

Saat disampaikan tentang kritik pedas dan penilaian kritis yang dilamatkan kepadanya, Yoga menolak jika dikatakan manajemen RSUD Lewoleba bobrok. “Siapa yang bilang, jangan-jangan kalian yang ngomong begitu. Indikatornya apa?,” tangkisnya. Tak kalah gencar, wartawan pun dengan tegas menyampaiakan kalau yang memberi penilaian tentang bobroknya manajemen RSUD adalah Wakil Bupati Lembata. “Terserah penilaian beliau, saya yah...kerja sesuai prosedur,” jawabnya lagi.

Tunggu Payung Hukum

Janji pihak rumah sakit untuk mengganti biaya pembelian obat yang dibebankan kepada pasien, nampaknya tak mudah untuk di realisasi. Terkait hal ini, direktur RSUD Lewoleba membenarkan jika pihaknya menyarankan kepada keluarga pasien untuk memiliki bukti pembelian agar bisa mengklaim pengembalian biaya. Namun dalam penjelasannya kepada wartawan Yoga mengaku tak yakin penuh, pasalnya hingga saat ini belum ada satupun payung hukum yang mengatur mengenai hal ini.
Direktur RSUD Lewoleba dr. Yoga Aditya dan Nyoman Taranpira

“Kita memang sampaikan begitu kepada keluarga pasien. Tetapi saya juga harus tunggu payung hukum, takut salah nanti. Kalau tidak ada payung hukum, saya tidak bisa lakukan,” kata Yoga.
Diduga akibat banyaknya tekanan yang diterimanya, direktur RSUD Lewoleba ini menutup diri dan menolak untuk ditemui, apalagi oleh jurnalis. Seperti diberitakan, gara-gara datang dengan menggunakan sandal, Dokter yang mestinya ramah itu marah dan nekat mengusir wartawan, bahkan untuk mendapat informasi yang berimbang, wartawan harus bolak-balik rumah sakit selama dua hari untuk mencari sang direktur.  (Yogi Making)

sumber : www.floresbangkit.com

Rabu, 24 Oktober 2012

Keju Bikin Sperma 'Memble'




Ghiboo.com - Keju yang biasa disantap, ternyata bisa mempersulit pria menghamili istrinya.

Penelitian Harvard menunjukkan bahwa pria yang memakan tiga slice keju (3 ons) sehari memiliki kualitas sperma yang 'memble'.

Tak hanya keju, beberapa produk makanan terbuat dari susu diperkirakan memberikan risiko yang sama.

Pemimpin penelitian Myriam Afeiche dari Harvard School of Public Health di Boston, AS menjelaskan hormon estrogen sapi betina dalam susu mungkin menjadi penyebabnya, meskipun belum diketahui secara pasti.

"Hal lain seperti adanya kandungan senyawa, seperti pestisida, polusi terklorinasi dan logam berat mungkin turut mempengaruhi," jelasnya.

Kecepatan berenang dan bentuk yang baik menunjukkan kualitas sperma tersebut baik. Namun, mengonsumsi tiga porsi makanan penuh lemak susu per hari malah menurunkan 25 persen kualitas sperma. 

Minggu, 14 Oktober 2012

4 Aktivitas yang Bisa Meningkatkan Kemampuan Otak



Untuk meningkatkan kemampuan berpikir ternyata tak perlu kegiatan rumit. Beberapa aktivitas ringan berikut ini bisa membantu menyegarkan fungsi otak.

Terlalu lama bekerja sering membuat pikiran buntu dan terasa penat. Jika merasa kemampuan otak menurun, beberapa aktivitas ini bisa membantu Anda.

Duduk tegak
Sepertinya sepele, tapi postur yang baik bisa membantu kemampuan berpikir Anda. Bangun dari duduk yang santai ke posisi tegak. Posisi tegak bisa membantu meningkatkan kesiagaan dan kemampuan berpikir lebih baik. Coba saja duduk santai di sofa dengan posisi malas dan mulut setengah terbuka, lalu lakukan perhitungan matematika sederhana dalam dalam pikiran Anda. Pasti lebih cepat jika dalam keadaan duduk tegak, mata melihat ke depan, dan mulut tertutup.

Olahraga

Olahraga ringan dan teratur bisa membantu meningkatkan kinerja otak. Sebuah studi mengatakan fungsi kognitif meningkat secara drastis setelah melakukan senam aerobik selama 10 menit. Untuk menghilangkan otak yang penat di kantor, berjalan kaki santai sambil menghirup udara segar bisa membantu mengembalikan kesegaran pikiran.

Ketika kita bergerak atau berolahraga, asupan oksigen ke otak pun semakin meningkat. Selain baik untuk menyegarkan otak, olahraga secara teratur setidaknya 30 menit sehari juga bisa membantu meningkatkan kemampuan otak dan melindungi sel otak secara jangka panjang.

Hubungan sosial
Memiliki hubungan baik dengan pasangan, keluarga, atau teman ternyata bermanfaat untuk kesehatan otak. Sebuah studi yang dilakukan Harvard School of Public Health, Amerika, menemukan orang dengan kehidupan sosial yang aktif menunjukkan penurunan memori yang lebih kecil ketimbang orang yang kurang aktif dalam hubungan sosial.

Rahasianya adalah, interaksi yang sehat dengan orang lain. Interaksi dengan teman, pasangan, atau keluarga ternyata merupakan latihan yang baik bagi otak. Dengan sering berinteraksi, otak menjadi lebih aktif dan sehat. Karena itu, jangan ragu untuk selalu menjaga hubungan baik dengan teman atau keluarga. Hubungi mereka secara berkala dan ciptakan interaksi yang menyenangkan. Hubungan yang menyenangkan dengan orang lain membuat hidup bahagia sekaligus menyehatkan otak.

Tertawa
Tertawa merupakan kegiatan menyenangkan yang ternyata bermanfaat bagi otak. Saat tertawa, tubuh melepaskan hormon endorfin yang membantu menurunkan tingkat stres. Mengurangi stres secara jangka panjang baik untuk kesehatan otak. Tertawa juga dipercaya bisa membantu membuat seseorang lebih terbuka terhadap ide dan pendapat baru.

Jika tanggapan emosional lainnya hanya mempengaruhi beberapa area di otak, tertawa memiliki efek lebih besar. Tertawa membuat banyak bagian otak menjadi lebih aktif. Mendengarkan cerita lucu atau melihat sesuatu yang lucu bisa mengaktifkan beberapa bagian otak yang berfungsi untuk meningkatkan kreatifitas dan proses belajar.

Makan buah

Beberapa buah memiliki kandungan yang baik untuk kesehatan otak. Stroberi atau blueberry memiliki kandungan anti oksidan tinggi yang baik untuk memperbaiki kerusakan sel pada otak. Beberapa buah-buahan lain juga memiliki berbagai kandungan yang bisa membantu meningkatkan fungsi otak. Apa saja buah yang baik untuk otak bisa dibaca selengkapnya di sini (http://id.she.yahoo.com/6-buah-segar-yang-bisa-meningkatkan-kualitas-otak-.html)

Asupan makanan yang baik untuk otak didukung oleh aktivitas yang menstimulasi otak seperti di atas bisa membantu kerja otak menjadi lebih maksimal. Seperti bagian tubuh lainnya otak juga perlu istirahat. Karena itu tidur yang cukup paling tidak 7-8 jam sehari juga bisa membantu memulihkan kembali kondisi otak dan memperbaiki sel-sel otak yang rusak. Selain itu jangan lupa selalu lakukan relaksasi dan kegiatan yang mengurangi stres untuk menjaga kesehatan otak.
Sumber : Yahoo.news

Senin, 01 Oktober 2012

Ilmuwan Korea Ungkap Rahasia Panjang Umur Pria: Dikebiri



VIVAnews -- Ini bukan kisah film drama Korea: selama pemerintahan Dinasti Chosun, yang memerintah antara tahun 1392-1910, bocah lelaki yang hidup dalam kemiskinan sering memilih hal yang ekstrem, dikebiri demi mimpi hidup nyaman di balik dinding istana. Menjadi kasim.

Sebagian besar kasim yang digambarkan dalam sejarah berusia tua. Rata-rata bisa hidup mencapai usia 70 tahun. Bahkan yang mengejutkan, tiga dari 81 kasim diketahui mencapai usia lebih dari 100 tahun. Prestasi panjang umur yang langka bahkan di era modern saat ini.

Sementara para pria dari tiga keluarga bangsawan ternama hanya bisa mencapai usia 51 hingga 56 tahun. Para raja yang dikelilingi selir dan anggota laki-laki dari keluarga kerajaan memiliki waktu kehidupan terpendek, biasanya hidup sampai usia pertengahan empat puluhan.

Fakta inilah yang mendorong para ilmuwan Korea meneliti data sejarah untuk mencari tahu rahasia panjang umur para kasim, sekaligus membuktikan
hormon seks laki-laki bertanggung jawab untuk memperpendek masa hidup pria.

Para ilmuwan meneliti Yangse Gaebo, dokumen berisi silsilah para kasim sejak Dinasti Koryo berakhir.

"Penemuan tersebut menambah petunjuk penting untuk memahami mengapa ada perbedaan usia harapan hidup perempuan dan laki-laki," kata Kyung-Jin Min dari  Inha University.

Para ilmuwan awalnya sudah mengetahui bahwa pengebirian pada mamalia meningkatkan masa hidup mereka, tapi tak mampu menghubungkannya pada manusia. "Hingga penelitian ini membuktikan bahwa hormon pria yang menyebabkan kematian lebih awal."

Bocah lelaki yang kehilangan organ reproduksinya secara tak sengaja, seperti akibat digigit anjing, atau dikebiri secara sengaja untuk bisa masuk ke lingkungan istana.

Para kasim dibolehkan menikah dan punya keluarga dengan cara mengadopsi anak laki-laki yang dikebiri atau anak perempuan normal. Namun, kala itu, mereka menyimpan rapat-rapat catatan silsilah sebagai bukti bahwa mereka dari kelas bangsawan.

Dengan meneliti catatan tersebut, Min dan koleganya, Cheol-Koo Lee, dari Korea University menemukan, kasim hidup lebih lama 14 hingga 19 tahun daripada pria normal.

Tim peneliti, yang temuannya dipublikasikan dalam jurnal Current Biology, mengatakan temuan mereka mungkin menawarkan beberapa petunjuk untuk cara untuk meningkatkan harapan hidup manusia.  (Arirang News, Daily Mail | umi)

sumber :Vivanews

Selasa, 25 September 2012

Mustahil, Mesin Penyulingan Air Laut Dijadikan Pabrik Garam


LEWOLEBA,FBC-Rencana Bupati Lembata,  Eliyaser Yentji Sunur mengalihfungsikan mesin penyulingan air laut menjadi air tawar di desa Bunganmuda,  Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata,  menjadi pabrik garam ternyata mendapat tanggapan sinis dari anggota DPRD Kabupaten Lembata Fredy Wahon.

 “Mengalihfungsikan mesin penyulingan air laut menjadi air tawar menjadi mesin pabrik garam, itu sebuah hal yang mustahil. Itu mimpi, dan jika bupati berpikir mimpinya itu baik ya, silahkan lakukan,” demikian pernyataan Fredy Wahon  menanggapi  rencana Bupati Lembata mengalihfungsikan pabrik penyulingan air laut menjadi air tawar di desa Bungamuda menjadi pabrik garam, ketika FBC menemui di rumah kediamannya di bilangan Wangatoa,  kelurahan Selandoro, Lewoleba,  Jumat, (21/9/2012).

Sebagaimana pemberitaan floresbangit.com sebelumnya, bahwa kepala desa Bungamuda, Anus Gawi, menyatakan alasan penghentian pengoperasian alat penyulingan air laut, selain karena kekurangan bahan bakar pada awalnya,  tapi setelah masa pemerintahan Lembata Baru, Bupati  Eliyaser Yentji Sunur merencanakan  akan mengalih fungsikan sebagai pabrik garam.

Ketua Fraksi Nurani Peduli Keadilan (FNPK)  DPRD Kabupaten Lembata ini, lebih lanjut menjelaskan jenis mesin penyulingan air laut menjadi air tawar di desa Bunganmuda itu jenis lain bukan jenis mesin pabrik garam. “Saya mau mengatakan, bahwa mesin yang digunakan untuk penyulingan air di desa Bungamuda itu, mesin jenis Reverse Osmosis (RO), apabila bisa dialih fungsikan menjadi mesin pabrik garam itu temuan baru,” katanya heran.
Fred,  demikian sapaan Fredy Wahon, menegaskan, layak atau tidaknya produk air hasil penyulingan itu harus didasarkan pada hasil uji laboratorium yang dikeluarkan oleh lembaga yang berkompoten, dan tidak sekadar disampaikan tanpa disadarkan pada sebuah hasil uji.

Uji laboraturium menurut Fred, dilakukan dengan melihat beberapa zat yang terkandung dalam air hasil penyulingan, diantaranya, melihat persentase kandungan zat asam (PH), zat padat terlarut (PDS), dan persentase kandungan unsur logam terlarut, termasuk kandungan belerangnya, sementara ambang batas ukuran kadar PH bagi orang indonesia adalah, 6,8% sampai 7,2%, jelasnya.

Sementara, terkait penghentian pengoperasian alat penyulingan air laut menjadi air tawar di desa Bungamuda, Fred membantah, jika penghentian itu disebabkan karena air hasil penyulingan air laut itu tidak layak konsumsi seperti yang dikatakan Bupati Lembata. Menurut Fred, pengehentian pabrik penyulingan air laut menjadi  air tawar ini disebabkan karena tingginya biaya beban produksi perbulan yang mencapai ratusan juta rupiah.

“Penghentian pengoperasian alat itu karena tingginya biaya operasional perbulan yang mencapai ratusan juta rupiah, jadi bukan karena air hasil penyulingan dinyatakan tidak layak. Kalau air hasil penyulingan tidak layak, kenapa pemerintah harus bangun lagi di desa Lamatokan ?  Jadi, jangankan masyarakat, sayapun merasa aneh dengan pernyataan bupati itu,” tegas Fred.

FBC sempat menghubungi Bupati Lembata Eliyaser Yentji Sunur via SMS guna meminta klarifikasi, namun sama seperti sebelumnya, Bupati tak juga memberikan tanggapan apapun. ( Lukas Narek / Yogi Making)
Sumber: Floresbangkit.com

Sabtu, 22 September 2012

Maria Mediatrix Mali : ”Malaria adalah penyakit yang sangat merusak jaringan dalam tubuh”



Ibu Maria Mediatrix Mali sedang melakukan sosialisasi tentang malaria di hadapan anak-anak
LEWOLEBA, FBC- Di hadapan 488 siswa Sekolah Dasar Negeri Wanggatoa dan puluhan siswa Sekolah Menengah Pertama Santu Gregorius Lewoleba, kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata,  Selasa, (18/9), Ibu Maria Mediatrix Mali,  pegiat penyakit malaria dari Yaspem Maumere, mengatakan, malaria adalah penyakit yang sangat merusak jaringan dalam tubuh.  Untuk itu, semua orang termasuk anak-anak harus berusaha memberantasnya dari hidup kita.

“Penyakit malaria adalah parasit dalam tubuh yang merusak seluruh jaringan dalam tubuh, termasuk merusak jaringan ke otak secara permanent ”, ungkap ibu Tris, sapaan Ibu Maria Mediatrix Mali.

Menurut ibu Tris, data FIlariasis terbesar di Kabupaten Lembata adalah desa Baobolak 20 %. Masyarakat Lembata mesti lebih waspada karena nyamuka yang sama akan dengan cepat menularkan penyakit yang sama pula ke orang lain. Hal ini, mesti harus lebih cepat disikapi oleh para pihak untuk mencegah kerawanan ini. Pola hidup bersih menjadi menjadi jaminannya.

Lebih jauh ibu Tris mengingatkan masyarakat luas dan anak-anak agar jangan lengah terhadap jentik-jentik nyamuk pada wada, kolam, lumpur dan rawa-rawa yang bakal menjadi nyamuk penyebab penyakit malaria, penyakit kaki gajah dan penyakit lainnya. Dalam pemaparan kepada anak-anak, ibu Tris menunjukan gambar-gambar yang memudahkan pemahaman anak didik terhadap bahaya  nyamuk, termasuk nyamuk Anoperes yang merupakan penyebab penyakit kaki gaja

Kunjungan ke SDN Wangatoa ini dalam rangka melakukan sosialisasi penyakit malaria dan cara pencegahannya,  merupakan satu rangkaian kegiatan bakti sosial (baksos) yang diselenggarakan di Lembata 17-18 September 2012 oleh  tim Gambara Foto dalam kerjasama teknis dengan Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (Yaspem) Maumere.

Kepala SDN Wangatoa, ibu Idel Pegan saat ditemui seusai kegiatan sosialisasi, mengaku sangat berterima kasih atas kedatangan tim Gambara Foto ke sekolahnya. Menurutnya, kegiatan sosialisai penyakit malaria dan cara pencegahan ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, khususnya kepada anak-anak sekolah dasar, agar ketika berada di rumah mereka mampu menerapkan prinsip hidup sehat.

“Kita disini (Lewoleba-red), adalah daerah malaria. Jadi masyarakat khususnya anak-anak usia sekolah dasar harus tahu tentang berbagai macam penyakit malaria, cara peyebaran dan bagaimana mencegahnya, agar di rumah, mereka mampu menerapkan prinsip hidup sehat ”, kata ibu Idel.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat, dan saya mengatasnamai keluarga besar SDN Wangatoa mengucapkan terimakasih berlimpah atas kunjungan tim Gambara ke sekolah kami, semoga kegiatan yang sangat berati ini, tidak berhenti disini, tetapi terus digalakan, agar satu ketika Lembata bisa dinyatakan bersih dari serangan nyamuk malaria”, harapnya.  (Lukas Narek/Yogi Making)

Bakti Sosial Bukan Tujuan Utama



LEWOLEBA,FBC- Bakti Sosial Kesehatan  kerjasama Gambara dan Yayasan Pembangunan Masyarakat (Yaspem) yang  berlangsung  di Kelurahan Selandoro dan Kelurahan Lewoleba Barat, kota Lewoleba,  Kabupaten Lembata, bukanlah sebuah tujuan utama, melainkan bermaksud menggerakan semua jaringan untuk mangambil peran dalam penanganan masalah.

Alex sedang melakukan koordinasi persiapan bakti sosial Kesehatan di Lewoleba
Hal ini dikemukakan  koordinator Bakti Sosial Kesehatan,  Alexsius Armanjaya,  saat ditemui disela-sela kegiatan pengobatan gratis, di Lewoleba, Selasa, (18/9/2012). “Kami sangat antusias dengan kegiatan ini, karena tujuan utama dari kegiatan ini adalah menggerakan semua jaringan untuk menggambil langkah sekecil apapun untuk menanggani masalah yang dihadapai pada sebuah wilayah,” ungkapnya.

Bagi Alex, Lembata adalah daerah baru. Oleh karenanya dengan pelayanan medis ini, Gambara dan Yaspem akan mendapat gambaran mengenai masalah-masalah yang dihadapi oleh warga, dan memancing Gambara Foto, Yaspem dan pihak lainnya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan melalui program-program lainnya.

Gambara Foto misalnya, dalam waktu dekat ini akan melaksanakan kegiatan lomba foto. Kegiatan pemotretan di Lembata, mengambil tempat di desa Jontona, Kecamatan Ileape Timur dan desa Lewayang, Kecamatan Omesuri,  Kabupaten Lembata,  20-24 Oktober 2012 mendatang menjadi event yang baik bagi kabupaten kita untuk diangkat dan dikampanyekan keluar.

”Dari kegiatan ini, kita akan mendapat gambaran tentang realita sosial masyarakat Flores dan Lembata seperti apa, dan menjadikan wilayah Flores dan Lembata sebagai fokus utama dalam berkontribusi. Rencananya, Yaspem pun akan segera menggelar pelatihan pengelolaan limbah plastik kepada masyarakat Lembata,” kata Alex menerangkan.

Alex mengajak semua pihak terutama semua stakeholder baik yang di wilayah Flores maupun Lembata untuk berpikir lintas regional. sehingga masalah yang dihadapi pada sebuah wilayah menjadi masalah bersama.

“Lembata pun sebenarnya membutuhkan kegiatan-kegiatan seperti yang dilakukan di wilayah Flores. Jadi dengan kegiatan ini, kami mengajak untuk kita berpikir regional terutama untuk mengatasi masalah yang terjadi di wilayah Floresdan Lembata,” harapnya. (Lukas Narek/Yogi Making)