Halaman

Sabtu, 20 Agustus 2011

Dinas Tamben Dan APMS Pasif” PLTD seluruh Lembata Lumpuh Total


Lewoleba-Rakyat Mandiri Dinamika pembangunan di Kabupaten Lembata, manakala senada dengan manufaktur yang bergerak di bidang jasa, saban hari mengalami  degradasi. Kondisi ini di perparah dengan kualitas pelayanan publik  yang tidak maksimal, akibat dari orientasi kepentingan yang selalu di kedepankan. Dari sekian banyak fenomena social yang tengah  di hadapi oleh sebagaian besar wilayah di kabuapten Lembata yang mendapatkan pelayanan dari Perusahaan Listrik Tenaga Daerah (PLTD) mengalami kemacetan distribusi BBM untuk Perusahan listrik tenaga daerah (PLTD) seluruh wilaya sekabupaten Lembata yang berdampak pada lumpuhnya pelayanan perusahaan listrik tenaga daerah (PLTD) .
Kemacetan distribusi BBM untuk perusahan listrik tenaga daera (PLTD) di setiap wilaya, bermula dari surat yang di keluarkan oleh Dewan Pimpinan pusat Asosiasi Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (HISWANA MIGAS) tertaggal 13 Mei 2011 dengan Nomor surat: 365/DPP/RM-DPD/V/2011 dengan perihal mengingatkan kembali untuk tidak melakukan tindakan penyimpangan dalam penjualan premium atau solar bersubsidi bagi seluruh Agen Premium Minyak Solar (APMS) termasuk APMS kabupaten Lembata. pasalnya, sudah ada penindakan yang di lakukan oleh pihaknya, terhadap SPBU dan penyalur lainya di daerah – daerah tertentu terhadap penyimpangan penyaluran premium dan solar bersubsidi oleh SPBU untuk mencari keuntungan secara tidak sah dengan memanfaatkan disparitas harga antara harga BBM subsidi dan non subsidi.  
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Rafael Hadjon ketika di temui Rakyat Mandiri kamis, (13/7/2011) mengatakan, mulai persatu juli 2011 seluruh perusahan listrik tenaga daerah (PLTD) tidak mendapatkan suplay BBM dari APMS. Alasannya APMS telah megantongi surat dari Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (HISWANA MIGAS) yang mana menegaskan bahwa, pertama, SPBU dan lain – lain adalah lembaga penyalur BBM yang mendapat kepercayaan dari pemerintah kepada PT. Pertamina (Persero) untuk menyalurkan BBM (premium dan solar ) manakalah subsidi untuk rakyat. Kedua sehubungan dengan adanya perbedaan  harga BBM subsidi dan non subsidi  maka di minta kepada semua anggota SPBU dan lain - lain untuk menjaga kepercayaan sebagai lembaga penyalur yang antara lainya mendistribusikan BBM subsidi sesuai dengan peraturan dan petunjuk dari PT. Pertamina (Persero), ketiga hindari diri dari godaan apapun bentuknya untuk ikut melakukan tindakan bercela dan bahkan melanggar undang – undang seperti, pengoplosan antara BBM subsidi premium atau solar, menjual BBM dalam jumlah besar (di atas 50 liter) kepada pembeli tertentu dan menjual BBM subsidi dengan tujuan spekulasi harga.
 keempat  diingatkan bahwa penjualan atau distribusi BBM subsidi selalu dalam pengawasan atau pengendalian pemerintah dan PT. Pertamina (Persero) karena menyangkut keuangan Negara (Subsidi dalam APBN). ” kami dari dinas sudah melakukan koordinasi dengan bupati, namun hasilnya diminta untuk memberhentikan sementara proses ini, sambil menunggu koordinasi pemerintah daerah dengan Badan Pusat  (BP) miyak dan gas (MIGAS)”ujar Hadjon. Ia mengatakan terkait pengelolaan keuangan semuanya  di atur oleh Eko bank karena, pendaannya  dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD II). Lebih lanjut dirinya mengatakan, pihaknya sudah menginformasikan melalui surat kepada seluruh masyarakat terkait subtansi persoala ini.
Dinas Pertambangan dan Energi dalam  rapat dengar pendapat bersama Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lembata memberikan garansi, akan berupaya semaksimal mungkin untuk Perusahan Listrik Tenaga Daerah (PLTD) kembali beroperasi dalam memeberikan pelayanan listrik di setiap wilaya yang mendapatkan pelayanan secara langsung dari Perusahan Listrik Tenaga Daerah (PLTD) Kabupaten Lembata pada tanggal 15 Juli 2011 yang lalu. Namun hingga kini masyarakat masi mengalami gelepan yang semakin parah kondisinya. Sosialisasi yang gencar di lakukan oleh tim Dinas Pertambangan Dan Energi di beberapa kecamatan terkait kemacetan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk Perusahan Listrik Tenaga Daerah (PLTD) sekedar memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mengetahui secara pasti subtansi persoalanya manakala berimplikasi pada lumpuhnya pelayanan listrik yang berkepanjangan. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya memberikan pelayanan hanya sebatas enam (6) jam per malam.
Lebih lanjut informasi yang di peroleh Rakyat Mandiri  bahwa pelayanan Perusahan Listrik Tenaga Daerah (PLTD)  berstatus non subsidi artinya bahwa beban meteran di embankan kepada kosumen, namun sebenarnya adalah berstatus subsdi bagi masyarakat. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya memberikan pelayanan hanya sebatas enam (6) jam per malam. Direktur Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) kabupaten Lembata Amirudin H.S. Ratuloli, ketika di temui Koran ini untuk menanyakan  soal kemacetan pendropingan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk seluruh Perusahan listrik Tenaga Daerah di seluruh Kabupaten Lembata, Pihaknya mengatakan ia sedang berada diluar daerah.
Dalam rekaman Rakyat Mandiri Pekan lalu, Seorang Tokoh masyarakat asal Desa Wulandoni Kecamatan Wulandoni yang tak mau di sebut namanya, mensesalkan pelayanan Public dari setiap sector rill salah satunya di bidang kelistrikan, sejak berdirinya Kabupaten Lembata  menjadi daerah otonom hingga kini seakan –akan  menjadi mandul dan tidak berproduktif. Pasalnya, pelayanan public yang selama ini di implementasikan tidak sesuai dengan kebutuhan dan problem social yang tengah di hadapi oleh masyarakat, apalagi dengan mental orang – orang kita di birokrat ada uang dulu baru kerja. Ia menambahkan pelayanan yang di berikan juga tidak berkeadilan dan merata, sangat di sayangkan justru kepentingan golongan dan wilaya menjadi prioritas dalam pelayanan. “kami masyarakat kecil hanya bisa berpasarah pada keadaan, akibat dari ulah dari para penguasa. Setiap hari kami selalu mengeluarkan uang untuk membeli lilin sebagai alternative penerangan ”Ujarnya. Apalagi kelangkaan Bahan bakar Minyak (BBM) manakalah semakin hari semakin parah dan harganya pun sangat sulit untuk di jangkau oleh masyarakat yang tingkat ekonominya yang bisa di kategorikan dalam (Low class) atau klas bawah dan (middel class) atau klas menengah. Dirinya menambahkan  listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat mendasar, sehingga kondisi ini membuat kami semakin sengsarah dan tidak dapat beraktivitas secara normal.

Kadis Kesehatan Diduga Main Proyek


Lewoleba-Rakyat Mandiri Proses tender proyek musim ini di dinas Kesehatan Kabupaten Lembata  kembali menyeret nama kepala dinas dr. Jhoni Lau sebagai pemicu protes rekanan yang kalah. Proses pelelangan 12 paket pengerjaan dengan total nilai yang berkisar dari 130 juta hingga 246 juta  diduga kepala dinas ikut bermain dalam menentukan pemenang. Dugaan sementara para rekanan yang kalah keputusan panitia tender ada kaitannya dengan permintaan deal fee sebesar 10 persen dari total anggaran. Rekanan yang bersedia menyiapkan fee 10 persen akan memenangkan tender. Sementara yang kalah menurut pengakuan beberapa rekanan adalah mereka yang tidak mau deal. Artinya mereka tidak mau memberikan fee sebanyak itu kepada pengguna anggaran.
                Demikian dikatakan oleh beberapa rekanan yang tidak mau namanya ditulis kepada Rakyat Mandiri pada Senin (17/07) di kediamannya di seputaran Wangatoa. Rekanan yang satu ini mengaku kalah dalam proses tender ini karena menolak memberikan fee 10 persen. Baginya lebih baik kalah daripada harus menang dan mengorbankan kualitas pengerjaan. Ia mengatakan pembangunan tidak akan maju-maju kalau setiap proyek harus ada fee-nya. Seorang pengusaha katanya tidak mungkin ingin rugi. Maka jelas untuk meraup sedikit keuntungan dari pengerjaan, dia harus merekayasa pada  pengerjaan pengerjaan fisik. Lanjutnya,  perilaku seperti itu akan berimbas pada kualitas pengerjaan.
Hal lain yang dinilai bermasalah yakni pada saat pembuktian kualifikasi, rekanan tertentu tidak hadir tetapi dimenangkan oleh panitia tender dan pada hari yang sama panitia langsung mengumumkan pemenangnya. Padahal proses pembuktian kualifikasi memerlukan evaluasi yang akurat dan mendetail. Diduga sementara sudah ada deal antara rekanan yang mau dimenangkan dengan panitia tender, pasalnya pada hari pembuktian kualifikasi ketua panitia sendiri tidak berada di tempat. Hal ini menimbulkan protes di kalangan rekanan dan diduga kuat sudah terjadi penandatanganan yang mendahului proses.Tindakan panitia tender ini diduga diintervensi oleh kadis sebagai pengguna anggaran yang sudah mengantongi rekanan jagoan.
                Informasi lain yang dihimpun media ini, sebelum tahapan pembuktian kualifikasi, masing-masing rekanan dipanggil kadis dr. Jhoni Lau untuk negoisasi fee. Jika ingin menang katanya rekanan bersangkutan harus menyetujui fee sebesar 10 persen untuk kadis. Mereka yang tidak menyetujui semuanya dipastikan kalah dalam proses pelelangan tersebut.
                Dari 12 paket pengerjaan yang dilelang, salah satunya adalah pengerjaan penambahan ruang penyuluhan pada puskesmas Wairiang dengan total nilai sebesar Rp. 130.804. Paket pengerjaan ini dimenangkan oleh CV. Panca Putra yang mana tidak menghadiri tahapan pembuktian kualifikasi. Menurut rekanan yang kalah, cv. Panca putra, Sangud diduga dimenangkan karena sudah ada deal terlebih dahulu terkait fee yang ditawarkan.  
                Sangud saat dikonfirmasi wartawan media melalui telepon dan short message service (SMS) membenarkan kalu dirinya saat itu mengalami sakit dan tidak bisaa menghadiri tahapan pembuktian kualifikasi. Menurut rekanan yang kalah, Sangud sempat mengatakan bahwa dirinya dimenangkan oleh panitia karena sudah ada deal fee 10 persen dengan kadis. Sampai berita ini diturunkan, CV. Panca putra, sangud baru bisa mengakui ketidahadirannya pada rapat pembuktian kualifikasi. Sementara terkait dengan dugaan deal yang dibangun secara person dengan kadis dan ketentuan besaranya belum dijawab oleh cv. Panca putra.
Ketua Panitia Tender, Petrus Bote pada Selasa (19/07) di ruang kerjanya kepada Rakyat Mandiri mengatakan panitia sudah menjalankan tugas sesuai prosedur yang ada dan peraturan yang berlaku. Ia mengatakan pada saat pembukaan penawaran memang ada rekanan yang mempersoalkan pemasukan amplop kosong dan dinilai tidak sesuai Pepres 54. Tentang persayaratan penawaran harus diikuti minimal 3 perusahan. Panitia tender sudah menjalankan tugas dan kewajiban sesuai peraturan prosedur dan peraturan yang ada. Skalipun ada amplop kosong tetapi tetapi setiap paket lebih dari 3 perusahaan yang memasukan dokumen penawaran.
Ia mengatakan dalam proses pembukaan hingga penentuan pemenang, tidak ada paket pengerjaan yang hanya diikuti oleh satu atau dua rekanan saja. Semua paket tender diikuti oleh lebih dari 3 perusahan. Ia juga menjelaskan evaluasi dokumen penawaran untuk paket perluasan puskesmas wairiang  diikuti oleh 3 perusahaan berdasarkan urutan ranking. Di dalamnya masih dilakukan koreksi aritmatik. Dalam proses ini ranking bisa berubah. 
Lebih lanjut ia juga menjelaskan proses evaluasi yang terdiri atas evaluasi administrasi, evaluasi teknis, dan evaluasi harga. Ia mengatakan terkait ketidakhadiran CV. Panca putra dalam proses pembuktian kualifikasi tidak menjadi soal karena yang dinilai panitia adalah dokumen atau administrasi.  Maka ketidakhadiran rekanan secara fisik tidak menjadi penentu kemenangan karena penilaian panitia bukan atas kehadiran person tetapi penilaian atas dokumen. Penilaian atas administrasi.“Penilaian yang dilakukan oleh panitia adalah penilaian administrasi atas dokumen”, jelasnya.
Terkait dugaan intervensi kepala dinas kesehatan dalam proses penentuan pemenang tender, dirinya hanya mengatakan bahwa intrvensi itu biasa. Ia mengatakan ada struktur kepatutan antara bawahan kepada atasan. Tetapi lanjutnya untuk proses di dinas kesehatan tidak diberlakukan secara total. Kebetulan prosesnya pas dengan keinginan pengguna anggaran atau panitia. “Intvensi pengguna anggaran itu biasa. Tetapi di dinas kesahata tidak diberlakukan secara total. Kebetulan pas dengan keinginan pengguna anggaran dan panitia. Bukan karena pengguna anggaran atau panitia lalu itu diwajibkan. Itu tidak terjadi”, jelasnya.
Sementara Kepala dinas kesehatan Dr. Jhoi Lau saat ditemui wartawan pada hari yang sama mengatakan kalau semua protes rekanan yang kalah itu tidak benar. Itu hanya kecemburuan sosial. Ia mengatakan proses pelelangan sudah berjalan sesuai prosedur dan peraturan yang ada. “Proses tender sudah dijalankan secara benar oleh panitia. Persoalan yang muncul kemudian dilandasi oleh faktor kecemburuan soaial”, tegasnya.
Ia mengatakan dirinya tidak terlibat penuh. Yang mengatur proses pelelangan dan penentuan pemenang adalah panitia tender. Dirinya haya mengeluarkan SK dan selanjutnya pelaksanaan proses pelelangan dikendalikan oleh panitia tender. Ia menjelaskan tidak benar jika informasi yang dirinya dikatakan mengintervensi penentuan pemenang tender  atas 12 paket pengerjaan ini.
Mengenai pengakuan cv. Panca putra bahwa  dimenangkan karena kesepakatan memberikan fee 10 persen kepada dirinya dibantah dan mengatakan itu tidak benar. “Itu pembohogan itu. Saya bisa melaporkannya pada polisi. Tetapi buat apa juga. Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, katanya.

HOG CHOLERA, SALAH SIAPA?


Lewoleba-Rakyat mandiri Sedikitnya 300 ekor ternak babi, belum terhitung yang tidak terdata, di kota Lewoleba dan sekitarnya mati terserang virus hog cholera. Penyakit menular hewan yang mematikan ini kurang lebih sudah menyerang ternak babi sejak bulan Maret yang lalu hingga sekarang.  Kondisi ini telah meresahkan warga secara luas terutama warga peternak  babi di kota Lewoleba dan sekitarnya. Namun sampai berita ini diturunkan asal muasal ataupun riwayat penyakit ini masih simpang siur bahkan pihak-pihak terlibat yang mesti bertanggungjawab atas peristiwa ini masih saling melempar kesalahan sementara  ternak babi milik warga yang mati terus meningkat jumlahnya. Siapa yang lantas bertanggungjawab atas masalah yang kompleks ini?
Peristiwa ini bermula semenjak Silvester Singu Wutun menitipkan sebanyak 35 ekor babi bantuan di kandang milik Bernadus Bera Koten, pensiunan Pegawai Negeri Sipil yang kini beralih profesi sebagai petani/peternak, yang terletak di sekitar pasar Pada, desa Pada, kecamatan Nubatukan. Kepada media ini Silverster Singu Wutun didampingi sang istri drh. Emiliana pada hari Jumat (15/04) di kediaman mereka membenarkan kejadian itu. Ia mengatakan babi-babi itu merupakan bantuan pemerintah provinsi NTT untuk kelompok tani. Tidak disebutkan nama kelompok penerima bantuan babi tersebut tetapi baik Sil maupun istrinya Emiliana yang adalah seorang dokter hewan di dinas pertanian, Kehutanan dan Peternakan Kabupaten Lembata itu cuma mengatakan kalau kelompok tersebut berada di kecamatan Ile Ape.  Kelompok tani tersebut bentuknya seperti apa tidak dijelaskan walaupun sudah ditanyakan wartawan. Dirinya dan sang istri hanya memfasilitasi mendatangkan babi-babi bantuan itu. Ia juga membantah rumor yang beredar bahwa dirinya yang membuat proposal. “Saya tidak buat proposal. Kelompok sendiri yang membuat proposal”, tegasnya.
Lebih lanjut Sil menjelaskan babi-babi bantuan itu tidak didatangkan sekaligus tetapi dua kali yakni pada bulan Desember 2010 dan Januari 2011. Menurutnya, awalnya babi-babi itu ditempatkan di kandang milik tetangga rumah dengan kondisi sehat. Akan tetapi kondisi kandang tidak memungkinkan. Maka dirinya meminta beberapa ruang kosong kandang milik Nadus Bera sebagai tempat penitipan sementara. Tak disangka selang beberapa hari berikutnya, babi-babi di kandang itu nampak sakit dengan gejala-gejala tidak makan selama seharian, dua sampai tiga hari lalu mati. Lantas mencuatlah polemik dan adu argumentasi  yang mempersoalkan babi milik siapa yang mati duluan dan babi siapa yang sebenarnya sakit?
Sil melanjutkankan sejak semula babi-babi itu didatangkan dari Kupang tidak sedang dalam keadaan sakit. Babi-babi tersebut dalam keadaan sehat. ”Babi-babi yang didatangkan sehat.  Tidak sakit atau kena penyakit. Sesuai hasil pemeriksaan di kupang babi-babi yang didatangkan ini sehat semua”, tegasnya. 
Hal senada disampaikan sang istri drh. Emiliana. Ia menjelaskan bahwa babi-babi bantuan itu sejak semula tidak sedang mengalami sakit. Apalagi selalu diberi vaksin. Namun kondisi sehat sempurna ini mendadak berubah rupa ketika pada akhir Maret lalu babi-babi itu satu-persatu mulai tidak/malas makan dan selang beberapa saat kemudian akhirnya mengalami kematian. Ia menambahkan sejak semula dari Kupang, babi-babi itu tidak mengidap atau membawa dalam dirinya penyakit apa pun. Hal ini dibuktikan dengan adanya rekomendasi dari dinas peternakan pemerintah provinsi NTT dan pihak Karantina di Pelabuhan Bolog Kupang.  Artinya tegas Emiliana bahwa babi-babi itu sehat. “Babi-babi itu sehat”, tegasnya sembari mengatakan bahwa bukti lainnya yang bisa memperkuat analisis dan diagnosanya adalah bahwa sebelum dipindahtempatkan ke kandang milik Nadus Bera, babi-babi bantuan itu ditempatkan di kandang milik tetangga bahkan diberi makan bersama tetapi babi-babi milik tetangga itu masih hidup sampai sekarang.
Mengenai penyebab kematian babi ini, Emiliana mengatakan kemungkinan besar karena terserang virus menular hog cholera. Ia mengatakan dirinya masih sedang membuat penelitian mendalam tentang penyebabnya. Tidak hanya hog cholera tetapi mungkin masih ada jenis penyakit lain. Diakuinya kalau dirinyalah yang menyelamatkan sekitar 7 ekor babi milik Nadus Bera dengan memberikan faksin secara teratur pada babi-babi yang sakit. Jika bukan hanya hog cholera maka diagnosanya adalah benar.  Selain hog cholera masih ada jenis penyakit lain yang menyerang. 35 ekor babi yang didatangkan sebanyak 19 ekor sudah mati dan sisanya masih hidup.
Untuk mendatangkan ternak dari luar daerah tentu ada prosedur dan peraturan lain yang mengikat. Baik Silvester mupun Emiliana mengaku mereka mengantongi rekomendasi dari dinas peternakan provinsi dan karantina provinsi yang menyatakan bahwa babi-babi bantuan itu sehat. Mereka juga mengantongi surat atau rekomendasi dari kepala dinas pertanian dan kehutanan Kab. Lembata, Ir. Virgilius Natal.
Di akhir perbincangan dengan media ini, Sil dan sang istri menjanjikan akan memberikan kajian secara tertulis. Sil mengatakan dirinya akan melakukan kajian tertulis sehigga lebih detail dan mendalam. Menurutnya, bukan hanya hog cholere yang menyerang, tetapi bisa saja ada jenis penyakit lain yang turut menyerang. Tetapi sampai dengan berita ini diturunkan tulisan itu tak pernah sampai ke tangan wartawan media ini.

SIL Lempar Tanggungjawab
                Sebelumnya pada Selasa (11/07)bertempat di tempat peternakan miliknya, Bernadus Bera Koten, kepada wartawan  membenarkan kalau babi-babi bantuan untuk kelompok itu dititipkan oleh Silvester Singu Wutun. Ia mengatakan atas dasar pertemanan, dirinya menerima begitu saja tanpa pernah meminta imbalan atau bayaran apa pun. Mulanya baik-baik saja. Tetapi situasi menjadi kurang kondusif dan tidak nyamanan bagi dirinya ketika babi-babi bantuan itu mulai mati dan kemudian informasi yang kurang berimbang menyebar di masyarakat bahwa babi-babinya yang mati duluan.
                Terhadap informasi tersebar yang condong mendiskreditkan dirinya, Nadus Bera menghimbau agar dinas selekas mungkin memfasilitasi pihak-pihak terkait atau yang terlibat baik dirinya, silvester Singu dan DPRD sama-sama duduk bicara, klarifikasi dan selesaikan semuanya. Baginya daripada omong di sana lain dan di sini lain yang bisa menimbulkan perkelahian lebih baik duduk sama-sama lalu selesaikan semuanya secara baik-baik. Sementara dirinya terancam oleh kemarahan masyarakat Pada yang babinya turut mati akibat virus ini. “Mereka tidak tahu bahwa itu Sil punya kiri kanan ka. Mereka tahu hanya dari saya saja”, tegasnya.
                Ia mengatakan sebelum babi-babi bantuan itu dititipkan di kandangnya, babi-babi miliknya aman-aman saja. Akan tetapi setelah adanya babi-babi bantuan itu, babi-babi miliknya turut terkena virus yang mematikan itu. Jika hanya babi miliknya saja yang mati, mungkin situasi tidak serunyam sekarang. Tetapi katanya wabah virus ini kini meluas menyerang ternak babi milik warga lain maka dirinyalah yang kena imbasnya. Masyarakat akan melihat dirinya dan babi-babi miliknya bukan babi-babi titipan Sil.
Ia menegaskan babi-babi miliknyalah menjadi korban mati. “Sebelumnya babi saya aman-aman. Setelah Sil datang titip babi itu, babi saya juga kena penyakit dan mati. Cukup korban saya punya saja tidak apa-apa. Membias lainnya ini?Habis mereka lempar tanggung jawab. Tidak mau lihat. Yang kamu datang bawa babi sekian banyak itu kan karena kamu tangan nakal, buat proposal ke sana. Bukan karena keringat sendiri. Ini keringat kita sendiri.Kerja tidak pake hati nurani ini kan maka kita bisa babak belur macam begini?”, tegasnya.
Sejak semula dirinya sudah memperingtkan Sil Singu bahwa babi-babi itu bantuan untuk kelompok. Kalau mau datangkankan babi mestinya kelompok sudah disiapkan. Tetapi katanya Sil juga tidak memberikan informasi yang jelas terkait asal muasal babi bantuan ini. Ia mengatakan terkadang Sil tidak pasti menginformsikan hal itu kepada dirinya. Kepada Sil ia mengatakan bahwa resiko kematian itu bisa saja terjadi dan yang menjadi korban adalah Sil. Tetapi jelasnya bahwa kandangnya itu aman. Ia mengatakan dirinya memlihara babi sejak tahun 1985. Memang pernah mati tetapi bukan karena penyakit, tetapi karena tertindih induknya atau kecurian. Tetapi untuk penyakit seperti itu tidak pernah ada. Penyakit-penyakit ringan seperti penyakit kulit dirinya bisa atasi. “Kadang bilang babi bantuan ini adalah babi dinas. Kadang bilang babi ini bantuan dari LSM ka  apakah.pokoknya tidak jelas”, ungkapnya.
Terkait dengan informasi yang beredar bahwa babi miliknya yang pertama mati, baik dirinya maupun anak-anaknya yang mendampinginya tersentak kaget dan dengan suara tegas mengatakan bahwa babi-babi yang mati duluan adalah babi-babi titipan Sil. “Yang mati duluan itu babi-babi bantuan itu. Babi-babi saya baru mati pada bulan april.  Kalau informasi bahwa babi miliknyalah yang mati duluan, Itu pembohongan besar. Babi saya aman-aman sebelum babi bantuan itu diititipkan di sini. Babi saya yang jadi korban”, tegasnya.
                Di awal Maret yang lalu, Sil membawa babi-babi bantuan itu untuk dititipkan di kandangnya. Selang dua minggu babi-babinya itu mulai mati satu per satu. Hal yang sama ini disampaikan oleh menantunya, Kristina Kese. Ia mengaku dirinya setiap hari bekerja di kandang. Memberi makan babi-babi dan merawat kandang . ia mengatakan babi babi milik mereka mulai mendapat penyakit lalu mati setelah babi-babi bantuan itu ada. Ia menegaskan babi-babi miliknya baru mati pada bulan April dan disaksikan oleh Silvester sendiri. Secara keseluruhan babi-babi miliknya mati sebanyak 57 ekor, terhitung anak babi yang sedang dikandung oleh induk yang mati.
                Ia mengatakan pada mulanya mereka mendatangkan petugas dari Puskeswan. Hasil analisa petugas tersebut menyatakan bahwa babi-babi itu mati dengan gejala-gejala sama seperti yang terjadi pada babi-babi milik misi. Kemungkinan besar kata Kese sesuai apa yang dikatakan petugas yang tidak diketahui namanya itu babi-babi itu terindikasi terjangkit hog cholera.  Karena tidak mengetahui hal ihkwal tentang penyakit ini, dirinya meminta bantuan dokter hewan Emiliana yang saat itu dating bersama suaminya SIL. Ia mengatakan seturut kata-kata Emil kalau babi-babi itu mati karena diberi makan ubi kayu. Tetapi dirinya serta merta protes karena sudah sejak dulu babi-babi itu diberi makan ubi dan makanan local lainnya. Bahkan katanya batu juga babi-babi miliknya bisa makan.
                Karena mendapat protes seperti itu, dokter Emilia mengatakan kalau babi-babi itu mati karena terserang bakteri strepto cocus. Tetapi setelah itu dokter meminta dirinya supaya jangan menginformasikan hal itu kepada orang lain. Dia juga meminta kalau informasi terkait jangan diceritakan kepada petugas puskewan atau masyarakat lainnya.
                Kese bertanya-tanya dan memang membingungkan tentang asal muasal babi-babi batuan itu. Ia mengatakan apakah benar babi-babi itu merupakan bantuan dinas atau hasil proposal pak sil. Setelah babi-babi itu mulai mati, katanya pak sil sering mengeluh bahwa ini baru merupakan usaha pertama mereka tetapi selalu mendapat halangan.
Lebih lanjut Kese mengatakan situasi terus membingungkan. Lanjut Kese, pernah sekali beberapa orang datang mengaku sebagai kelompok tani dari Ile Ape yang hendak ambil babi bantuan tersebut. Tetapi mereka pulang setelah melihat kondisi babinya. Sementara pada hari berikutnya  entah tanggal berapa tetapi masih di bulan April, Sil datang bersama beberapa orang menggunakan mobil pick up yang bertuliskan Kakang,  mengambil sisa babi yang masih hidup sebanyak empat ekor dan yang mati dua ekor lalu membawa pergi ke arah perkampungan Pada. Ia mengatakan mungkin mereka membuang babi-babi mati itu di sana. Sejak itu, Sil tidak pernah datang lagi bahkan dihubungi per telpon juga tidak dibalasnya.

Komisi III DPRD Lembata; babi itu program dinas tahun 2010

                Ketidakjelasan informasi dan penanganan yang tidak serius tampak dalam hasil rapat kerja antara Dinas dan DPRD pada tanggal 01 Juli 2011 silam. Laporan dinas yang simpang siur jelas mempengaruhi penanganan yang menyeluruh dan efektifnya pengawasan. Ketua Komisi III DPRD Lembata, Simon Beduli bertempat di ruang kerjanya  pada Senin (11/07), saat ditemui wartawan menjelaskan, setelah mendapat laporan dari masyarakat mengenai matinya ternak babi tersebut, langkah pertama yang ditempuh adalah melakukan rapat kerja bersama bagian peternakan pada dinas kehutanan dan pertanian kabupaten Lembata pada tanggal 01 Juli yang lalu. Dalam rapat itu di;aporkan bahwa babi-babi bntuan itu merupakan program Dinas yang diperuntukkan bagi kelompok. “Pengadaan oleh dinas peternakan pada bulan Desember 2010 yang lalu”, tegasnya.
                Tetapi ironisnya ketika ditanya soal jenis dan nama program serta nilai kegiatan tersebut, Beduli mengaku tidak mengetahui secara terperinci. Hal itu baru diketahui saat rapat kerja dengan dinas. Selanjutnya tentang jenis virus yang menyerang, Simon menjelaskan bahwa semula berdsarkan informasi yang beredar virus yang menyerang ternak babi di Lewoleba dan sekitarnya adalah hog cholera. Tetapi saat rapat kerja dinas melaporkan bahwa yang menyerang ternak babi itu adalah virus Strepto cocus.
                Berdasarkan hasil rapat kerja tersebut, menurut Simon, komisi III juga telah merekomendasikan agar dinas terus  mendata dan melakukan pemeriksaan yang serius terhadap wilayah-wilayah yang telah dijangkiti virus ini. Selain itu, dinas juga diminta untuk melakukan sosialisasi di semua kecamatan agar masyarakat bisa mengetahui hal ini dan melakukan antisipasi lebih awal. Sementara untuk babi yang sudah terjangkit virus, diberikan vaksin. Sedangkan untuk babi yang mati, masyarakat dihimbau agar dikuburkan di tempat yang aman atau jauh dari lokasi peternakan warga agar tidak menjangkiti babi-babi warga yang lain. 
                Anggota komisi III DPRD Lembata, Hasan Bahar yang turut hadir hari itu mengaku dirinya heran kenapa bisa datangkan babi dari Kupang. Sejak dulu Kupang sudah ditetapkan sebagai daerah epidemi Antraks dan Hog Cholera. Kedua jenis penyakit menular pada hewan ini hanya bisa disembuhkan dengan pola pemberian faksinasi secara teratur serta pembasmian ternak yang terjangkit.
                Ia mengaku heran kenapa babi-babi dari Kupang begitu gampang masuk ke Lembata. Dahulu katanya,  dirinya pernah mencoba mendatangkan babi dari Kupang tetapi Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata saat itu tidak memberikan rekomendasi. Kalau tidak salah jelasnya ada peraturan yang berlaku di provinsi, kota Kupang dan Kabupaten Kupang yang melarang ternak babi maupun sapi dibawa keluar daerah Kupang. “Saya heran, kenapa bisa bawa keluar babi dari Kupang? Lain halnya kalau daerah Kupang sudah bebas dari Antraks dan Cholera”, ujarnya.       

Kadis: Babi Bantuan itu Bukan Program Dinas

                Berbeda dengan penjelasan ketua Komisi III DPRD Lembata, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Ir. Virgilius Natal kepada media ini pada Jumat (15/07) di ruang kerjanya mengatakan bahwa dinas tidak pernah melakukan pengadaan babi bantuan pada tahun 2010. Babi-babi bantuan itu didatangkan oleh Silvester Singu Wutun bersama istrinya drh. Emiliana.
                Natal menjelaskan kalau babi-babi bantuan itu didatangkan oleh Sil dan Istrinya untuk kepetingan Lembaga Mandiri Merakyat dan Mengakar (LM3) yang dipimpin Sil sendiri. Jadi jelasnya babi-babi itu bukan pengadaaan yang dilakukan oleh dinas pada bulan Desember 2010 silam. Babi-babi itu jelasnya didatangkan oleh Silvester Singu bersama istrinya.
                Walaupun Natal baru bisa ditemui saat itu, kepada media ini menjelaskan sebab pasti kematian babi-babi warga adalah virus hog Cholera. Ia mengatakan berdasarkan hasil laboratorium, penyebab kematian  babi  warga itu adalah penyakit menular pada hewan, hog cholera.
                Ia mengatakan penyakit sampar ini dengan potensi menularnya sangat cepat tetapi melalui media sebagai perantara. Media perantara itu jelasnya seperti daging sei, abon, bangkai babi yang mati, sisa makanan atau kotoran yang mengandung daging babi yng terjangkit.
                Untuk mengatasi wabah yang sedang melanda kabupaten Lembata ini, Natal mengatakan dinas sudah mengupayakan beberapa hal yang bisa membantu pencegahan maupun pengobatan terhadap yang sudah terjangkit. Ia mengatakan, dinas sedang melakukan kajian mendalam dan studi epidemologi . selain itu dinas sudah menghimbau kepada masyarakat unutk tidak boleh membawa babi keluar dari Lewoleba, lalulintas babi diatur secara baik, mengisolasikan bab-babi yang sudah terjangkit dan memberikan vaksin secara teratur pada babi-babi yang sakit.
                Sementara tentang rekomendasi yag harus dikantongi drh. Emiliana dari dinas, Natal mengaku tidak pernah mengeluarkan rekomendasi atau sebentuk surat. “saya merasa tak pernah keluarkan rekomendasi untuk datangkan babi-babbi  itu”, tegasnya. Lantas menjadi pertanyaan, siapa yang salah atau siapa yang benar?

               
Paul Dolu; Dinas dan Sil Singu Harus Bertanggung Jawab

                Menurut data Dinas Kehutanan, Pertanian dan perternakan Kabupaten Lembata, korban babi mati paling banyak jumlahnya adalah milik masyarakat Pada. Paulus Dolu, salah seorang warga desa Pada yang babinya jadi korban Hog Cholera, beberapa hari lalu bertempat di Wangatoa saat ditemui wartawan mengatakan mendatangkan ternak babi dari Kupang diduga ada konspirasi pihak-pihak yang terlibat.
                Ia mengatakan Kupang adalah daerah epidemis Cholera maka mana mungkin ternak babi bisa dibawa keluar.pihak dinas peternakan Provinsi, Dinas Peternakan Kabupaten Lembata dan pihak Karantina Kupang harus bertanggungjawab. Oleh karena itu Paulus menduga kalau bukan konspirasi tidak mungkin ternak babi dibawa keluar dari Kupang. hal ini tampak jelas dalam kesimpangsiuran informasi terkait proses pengadaan dan penyebab kematian babi.
                Dirinya juga mempertanyakan hasil rapat kerja antara DPRD dengan Dinas pada tanggal 1 Juli silam. Entah siapa yang hadir saat itu tetapi tetap atas nama dinas yang sudah meberikan laporan yang sangat berbeda dari penjelasan Kepala Dinas. Ia mengatakan laporan dinas saat rapat kerja bahwa pengadaan babi bantuan itu adalah program dinas sementara kepala dinas mengatakan lain. Hal lain yang tampak aneh adalah drh. Emiliana mengatakan bahwa dirinya mendapat rekomendasi dari kepala dinas. Sementara kepala dinas mengaku tidak pernah memberikan surat rekomendasi tersebut. Bukankah ini sebuah permainan yang sedang menipu masyarakat, katanya.
                Ia juga meragukan kebenaran kalau babi-babi itu diperuntukan bagi kelompok masyarakat. “Kalau memang  babi-babi itu untuk kelompok kenapa nama kelompok saja tidak diketahui oleh Sil Singu dan drh. Emiliana?” Jika babi bantuan itu untuk kelompok kenapa masih ditahan berbulan-bulan?” Mestinya sebelum babi itu didatangkan kelompok sudah disiapkan termasuk kandangnya. Tetapi ini tidak. Nama kelompok juga masih dicari-cari.”, ungkapnya.
                Sejak dulu Lembata menjadi daerah bebas dari epidemi cholera dan beberapa penyakit menular lainnya pada hewan. Bahkan sedang disiapkan menjadi daerah ternak yang nyaman dari gangguan penyakit menular hewan seperti itu. Ia mengatakan Hog Cholera itu dibawa oleh babi bantuan dari Kupang. Sehingga katanya tidak perlu diributkan lagi tentang itu tetapi bagaimana mengatasi wabah ini. “Silvester singu dan Kepala dinas harus bertanggungjawab atas semua yang sedang terjadi ini. “