Halaman

Jumat, 05 Desember 2014

Ngambek Tidak Disalami Anggota DPRD, Warga Cerca Bupati Lembata



Lewoleba, Lewolembata-
Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur ngambek dan mengajak semua pejabat eksekutif untuk tinggalkan paripurna DPRD, menyusul tindakan anggota DPRD Lembata Yakobus Liwa yang tidak menyalaminya usai membaca laporan pemandangan umum fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Paripurna DPRD Lembata dengan agenda pemandangan umum fraksi terhadap Nota Keuangan dan Ranperda APBD 2014 yang di selenggarakan, Selasa (2/12/2014) malam, terpaksa di skor.
Tak cuma Ketua DPRD, Aksi boikot sidang paripurna oleh Bupati Sunur dan seluruh jajaran eksekutif ini menuai kritik masyarakat. Tanggapan keras ini disampaikan masyarakat melalui akun media sosial. Yohanes Nuban, salah satu putra Lembata yang bermukim di kota Samarinda menilai sikap sebagaimana yang ditunjukan Bupati tak pantas untuk dilakukan oleh seorang pemimpin. Menurutnya, Bupati Sunur lebih mementingkan ego pribadi ketimbang menunjukan keberpihakannya kepada kepentingan rakyat. Ngambek, hanya menunjukan sikap seorang pemimpin yang cengeng, tulis Nuban.“Salam hormat untuk bupati yang cengeng. Sidang dewan itu untuk kepentingan siapa? Kalau untuk kepentingan rakyat Lembata jangan berprilaku seperti itu. Ingat rakyat Lembata bukan ingat harga dirimu. Rakyat Lembata lihatlah pemimpinmu”
Tanggapan kritis juga disampaikan Justin Wejak. Akademisi asal Lembata yang berkarya sebagai pengajar pada salah satu universitas di negeri kanguru Austrlia melihat sikap Bupati Lembata ini sebagai sebuah sandiwara. Karenanya Justin menyarankan agar dibuat dalam sebuah skenario sandiwara lalu dipentaskan diatas panggung, “Coba bikin satu naskah sandiwara dgn semua adegan ini dan dipentaskan di seluruh Lembata. Pasti banyak yg berminat menontonnya,” ujar Justin.
Warga lainnya Ben Baoama mengatakan, kebiasaan saling menyalami antar sesama beda dengan tanda hormat yang diberikan prajurit terhadap komandannya. Karena itu dia menyarankan agar Bupati tak perlu menunggu untuk disalami, tetapi sebaiknya terlebih dahulu memberi salam.
Bupati juga di kritik Koordinator Aldiras, Kor Sakeng. Melalui akun media Sosial Kor Sakeng mengatakan, salah satu ciri dari usia akil balik adalah mudah tersinggung, emosional dan merasa menang sendiri, tetapi ciri seperti ini sering juga terpantau pada orang-orang yang mulai menginjak usia senja, bahkan terdapat juga pada orang dengan tipe kepemimpinan yang selalu menempatkan kekuasaan diatas segalanya.
Karenanya Kor mengatakan, tak heran jika seluruh kekuasaan dibingkai oleh perilaku arogan atau sejenisnya. Lebih jauh dalam analisisnya Kor mengatakan, Biasanya cirri ini diproduk oleh kinerja kerja otak yang tidak menata kelolah perimbangan antara otak kiri, otak kanan dan otak belakang. “Dalam struktur tata letak otak dan perannya, biasanya cirri tersebut diproduk oleh otak belakang yang oleh para pakar anatomi menyebutnya sebagai Dinossourus atau pembunuh. Sementara otak kiri dan otak kanan selalu memberi pertimbangan analitis yang sifatnya pasti maupun kontekstual dengan bersinergy oleh rasa,” tulisnya.
Menurutnya, sikap Yakobus Liwa yang tidak berjabatan tangan dengan Bupati Lembata,
Koordinator Aldiras, Kor Sakeng
adalah sebuah sikap yang manusiawi. “Sulit sekali kita menemukan dua person yang terlibat aktif di medan perang saling berpelukan walau peluruh tinggal meletup dari laras yang mematikan itu. Kobus masih terbawah rasa itu karena pernyataan yang disampaikan dalam sidang paripurna berbuntut pidana,” tulis Kor Sakeng.
Lebih jauh lagi dia mengatakan, respon Bupati atas sikap anggota DPRD Yakobus Liwa yang berbasis pada ketersinggungan yang di ikuti dengan memerintahkan jajaran SKPD meninggalkan ruang sidang adalah sebuah sikap yang masih dipertanyakan dalam derap tipe kepemimpinan. Jika dipersandingkan dengan frame kemitraan, semestinya eksekutif dan legislatif menunjukan sikap kerendahan hati. “kedua lembaga ini paling credible dalam memainkan perannya di tataran hulu demi kesejahteraan komunitas hilir. Kita bisa menduga apa hasil akhirnya jika bingkai kemitraan ini terporak-poranda oleh rasa ketersinggungan produk olahan dinossourus,” tulisnya.
Kor sakeng juga melihat, jajaran eksekutif yang hadir dalam rapat paripurna itu sesungguhnya sedang peran bathin, antara ikut Bupati atau tetap duduk dalam ruang sidang. Tindakan ikut-ikutan para PNS ini membawa mereka pada sebuah posisi serba salah. Dia juga menulis, konflik dua elit politik lembata ini menjadi menarik untuk di cermati karena kedua politisi ini lahir dari satu rahaim yang sama yakni PDIP. Sebuah partai yang selalu melabelkan diri sebagai partainya kaum marhaen. “Rumah PDIP kini kehilangan aura capability recolution conflich dan membiarkan konflik perseteruan ini mengalir bebas ke telaga politik,” tulisnya lagi.
Kondisi politik lembata dari hari kehari kian memanas, namun belum ada satu pihakpun yang berani tampil untuk mempetemukan semua pihak yang berseteru atau setidaknya bertindak ibarat dokter yang siap menjahit setiap banthin yang tersayat luka. Para elit bahkan menggunakan KUHP sebagai pendekatan penyelesaian konflik, padahal kita tau penyelesaian hukum hanya membuat masalah kian memanas.
Kritik pedas orang lembata ini disampaikan sebagai respon atas sebuah berita yang dirilis melalui blog lewolembata.blogspot.com dengan judul “Gara-Gara tidak disalami anggota DPRD, Bupati Lembata Ngambek,” yang diposting Elias Making ke grup “Calon DPRD Lembata.”
Puluhan tanggapan yang disampaikan melalui akun media sosial ini, rata-rata disampaikan oleh putra-putra lembata yang rata-rata berkarya di luar Lembata.
Terkait tindakan Bupati itu, Ketua DPRD Lembata Fardinandus Koda kepada wartawan di ruang kerjanya Rabu (3/12/2014) pun menyampaikan tanggapannya. Ferdy mengaku kesal dengan sikap Bupati. Dia mengatakan, Bupati semestinya tak perlu tersinggung dengan sikap Yakobus Liwa, karena keduanya memang sedang berkonflik. “Lho, kalau orang tidak mau jabatan tangan dengan saya apa saya harus tersinggung? Apalagi orang yang menolak jabatan tangan ini sedang berseteru dengan kita. Kalau saya Bupati, saya cuekin saja,” katanya.
Ketua DPRD juga mengatakan, sebagai pemimpin semestinya Bupati meninggalkan semua ego pribadinya dan menempatkan kepetingan rakyat diatas segalanya. Konflik personal dibawah hingga ke ruang politik, hanya akan membuat suasana poliitik tak kondusif yang pada akhirnya rakyatlah yang di korbankan. Kendati kesal dan terpaksa menskors sidang, Ferdy sapaan akrab ketua DPRD Lembata ini berjanji untuk segera mengundang kembali pemerintah untuk melanjutkan agenda paripurna yang tertunda.

Klarifikasi Pemerintah
Terkait aksi bokiot Bupati dan terhadap tanggapan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Kepala Bagian Humas Setda Kabupaten Lembata Karel Burin memberikan klarifikasinya.
Karel yang dihubungi, Kamis (4/12/2014) menjelaskan, Kendati tidak diatur dalam tatib DPRD namun etika tata kenegaraan dan mengikuti kebiasaan selama ini, kalau anggota dewan setelah membaca pemandangan umum, berjabatan tangan dengan pimpinan DPRD, Bupati dan Wakil Bupati. Ia mengatakan jika Yakobus Liwa tidak berjabatan tangan dengan semua pimpinan dan Wakil Bupati Viktor Mado Wathun tentu tidak ada masalah. “Yang menjadi masalah Yakobus Liwa jabatan dengan Wakil Bupati, ketua DPRD dan wakil ketua DPRD, lalu mengabaikan Bupati” terang Burin.
Karel Dihubungi melalui kontak telepon, pu membenarkan kalau Bupati dan Yakobus Liwa sedang berseteru. Namun perseteruan janganlah di dipertontonkan kepada publik "Betul mereka konflik tapi jangan kita pertontonkan kepada publik. Jabatan tangan saja seolah-olah tidak ada konflik,” jelasnya.
Sebagai gambaran peristiwa bokiot sidang paripurna oleh Bupati Lembata ini bermula dari aksi nakal Anggota DPRD Lembata asal partai PDIP Yakobus Liwa. Usai membacakan pemandangan umum fraksi, Yakobus lalu menghampiri meja pimpinan dengan maksud menyerahkan berkas pemandangan umum fraksinya. Namun sebelum itu, Yakobus terlebih dahulu menjabat tangan Wabub Lembata yang duduk pada posisi paling kanan atau persis disamping podium. Setelah menyalami Wabub, Yakobus langsung menuju pimpinan DPRD, dengan maksud menyerahkan berkas dan menyalami kedua pimpinan DPR tanpa mempedulikan Bupati yang posisi duduknya persis di samping kanan Ketua DPRD atau persisnya diantara ketua DPRD dan Wakil Bupati Lembata. Seperti tak biasa usai menyalami dua pimpinan DPRD, Yakobus pun balik menuju kursi tempat duduknya.
Aksi nakal Yakobus ini, tak pelak membuat Bupati Lembata tersinggung. Terlihat Bupati menoleh ke arah ketua DPRD sambil membisikan sesuatu. Tak jelas apa yang disampaikan Bupati ke Ketua DPRD, tiba-tiba saja Bupati Berdiri dan melangkah turun dari podium meja pimpinan sembari memerintahkan semua pejabat eksekutifnya untuk meninggalkan ruang rapat. Seperti mendapat angin segar, semua pejabat eksekutif serempak berdiri lalu keluar meninggalkan ruang sidang. Beda dengan Bupati, Wabub Viktor Mado malah tak mau ikut-ikutan, dia memilih tetap duduk diruang sidang sembari menyaksikan kepergian Bupati dan semua cru eksekutifnya. Akibat aksi Bupati dan bawahannya ini, rapat paripuna akhirnya di skors. (Yogi Making)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar